26 January 2020

Puisi Nok Ir : ( DEE: Kau Rembulan Itu)

DEE : KAUKAH REMBULAN ITU

Kaukah rembulan itu

menyembul malu di balik tirai ruangku

membuat celah,lubang tempatmu mengintip

mencari tahu, tengah apakah aku

tergelegak ataukah sedang berteduh ragu

Kaukah rembulan itu

terang-terangan memandangku jalang

menarikku kuat, melarikanku kencang-kencang

melesat menjauhkanku dari inang tempatku berpijak

menyusup kelam menyembunyikanku dari pencarian

mengabur remang meniadakanku dari jangkauan

Kaukah rembulan itu

mencoba meminangku setiap waktu

beraneka rupa puja kau hantar

menjelang senja setangkup rindu sisa semalam kau kemas di fajar

setalam atma kau suguhkan bersama siang

tak segan ketika malam kembali datang

kau lengkingkan ribuan rayuan, bertubi-tubi

 

Kaukah rembulan itu

menyulut peluh gugupku

menggetarkan detak panjang

menggenggam erat jemari, mengajakku pergi

melenggang menyusuri hamparan pelangi

katamu :

ada indah berwarna di sana

penuh kilauan cahaya

memandikan tubuh kita berdua

Kaukah rembulan itu

yang kusuka dari caramu membinar

sembunyi di rerimbun berhelai-helai daun

menggelapkan pandangan

hingga netra ini seolah tak dapat menatap kasat

ketika pendarmu acap membesutku dengan aneka rupa

pesona

tak lagi ku punya nyali tuk mengukuhi takdir diri

sebab soraimu acapkali mengelabui

Memang kaulah rembulan-rembulan itu

yang tak mungkin kuharap menyetia

utuh hanya padaku saja

sebab kau selalu membahana ditiap keremangan

karena kau telah mencumbui bunga di semua benua

bahkan sering merenggut lara banyak jiwa

hanya dengan cerlangnya menyinggahi seluruh dermaga

pada segala samudera

maka, ku merela membiarkanmu termiliki mayapada

Sumenep, 21 September 2015

 

AKULAH CANDUMU ITU

ada candu di cawanmu

bersanding segenggam kelopak lotus

bergelak mengajak

menitik segar

menjanjikan abadi, tanpa pudar

candu di cawanmu

memercik ke segala arah

membumbung di angkasa

melingkar-lingkar asap fantasi

membola warna warni

menyiksa hujan tak berpelangi

perlahan mati suri

candu itu

menyalakan api gelora

inginkan remajamu

kembali menikmati puja fatamorgana

menggeleparkan nadimu

memikat sukma, rata bersama atma

lalu,

kau terbius separuh jiwa

melayang seringan-ringannya

mengapas lepas

kau teracuni sebuah janji

terpagut di dasar hati

tak akan pernah pergi

akulah candumu itu

menggila, memabukkanmu

menjerat, mengikat jelang kakimu

kudekap, tak akan kulepas

selalu, di seluruh waktu

hingga tak lagi kau ingini

lain candu

Sumenep, 06 Oktober 2015

 

TIGA SENJA SAJA

tiga senja ku mencarimu

menyusur lorong-lorong biru

kusinggahi berpuluh ladang

menyibak tiap rimbun dedaun

kerontang di kemarau panjang

mungkin ada gambarmu di situ

 

tiga senja ku memanggilmu

lengkinganku menembus derai hujan

deras di kotamu

menggenangkan beranda rumah hatiku

basah jiwa ini serupa kubangan

terasa semakin mencabik keinginan

tiga senja ku menantimu

memilin-milin rempah yang ku bekalkan

menyusunnya menjadi setumpuk rindu

telah kupolesi indah sebejana warna

seonggok sebagai persembahanku

jika bisa sua suatu masa

tiga senja saja

kucukupkan untukmu

Sumenep, 20 Oktober 2015.

___________________________________________________________________

*) Hj.Khoiroh. Nama Sastra. : Nok Ir, Aktivitas : Pengajar di SDN Pabian III Sumenep, Saat ini tinggal dan Berkarya di Sumenep Madura. (Kf)

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...