24 January 2020

Puisi Berdenyut di Pulau Tidung

KONFRONTASI-Pulau Tidung kini telah meraih berkah sebagai daerah tujuan wisata. Ia kini tak hanya menjadi pulau yang seksi, eksotis, dan penuh pesona, namun sekaligus menjadi pulau yang ramai manusia. Siapa pun yang datang ke Pulau Tidung di akhir pekan dengan cara mendadak, rasanya sulit mendapatkan homestay di sana. Homestay umumnya sudah dipesan beberapa minggu atau bahkan 2 atau 3 bulan sebelumnya. Terutama homestay-homestay di pinggiran pantai.

Begitulah gambaran pulau yang terkenal dengan ikon wisata Jembatan Cinta dan berpenduduk sekitar 5.000 jiwa. Lokasi yang disebut Jembatan Cinta sebenarnya merupakan jembatan yang panjangnya sekitar 2,5 km yang membelah laut dan menghubungkan Pulau Tidung besar dan Pulau Tidung kecil. Di tempat favorit kaum remaja inilah semua pengunjung ingin menghadirkan jiwa dan raganya. Maka seringkali terdengar ungkapan: “rasanya belum afdol ke Pulau Tidung kalau belum menginjakkan kaki di Jembatan Cinta.”

Menceritakan keindahan Pulau Tidung dari Jembatan Cinta, pantai Tanjongan Timur, pantai Tanjongan Barat, pelabuhan Betok, keindahan alam bawah lautnya, dan segenap olahraga pantainya, membuat mata kita selalu terbelalak. Para wisatawan merasa rugi bila melewatkan momen-momen indah, terutama di saat matahari terbit dan matahari tenggelam. Mereka pun tak berhenti memoto tempat-tempat indah itu dan momen-momen indah itu.

Dalam arus wisata yang serupa air bah itulah Pulau Tidung kini berada di ambang kemajuan, sekaligus ancaman kemunduran kebudayaannya. Bila saja masyarakat Pulau Tidung yang terkenal dengan sikapnya yang religius, ramah tamah, dan peduli pada orang lain, bisa memertahankan budaya leluhurnya yang demikian, maka Pulau Tidung akan mengalami kemajuan. Sebab di tengah kemajuan bisnis wisata dan ekonominya sejak tahun 2000-an, Pulau Tidung bisa menjaga nilai-nilai budaya positif yang terekam dalam kehidupan masyarakatnya sejak dahulu kala.

Untuk itulah Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menggelar kegiatan Bengkel Sastra Guru: Puisi, di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, 11-14 September lalu.

“Pelatihan menulis dan membaca puisi ini baru pertama kali diselenggarakan di Pulau Tidung. Kami berharap masyarakat Pulau Tidung bisa mencintai puisi. Sebab puisi adalah seni sastra yang paling tua. Melalui seni puisi, nilai-nilai kebudayaan masyarakat Pulau Tidung bisa dilestarikan kepada generasi penerus dengan penuh keindahan,” kata Kepala Subbidang Pembinaan Tenaga Kebahasaan dan Kesastraan, Kemendikbud, Setyo Untoro.

Dalam kegiatan Bengkel Sastra Guru: Puisi di Pulau Tidung, dihadirkan penyair Chavchay Syaifullah yang mengajarkan penulisan dan pembacaan puisi kepada 35 guru se-Pulau Tidung, mulai dari tingkatan guru SD, SMP, hingga SMA.

“Pendidikan puisi kepada guru sangat strategis, sebab mereka akan membuka imajinasi murid-muridnya di sekolah dan anak-anaknya di rumah. Ini bagian penting dari strategi kebudayaan, sebab melalui puisi dan melalui guru, kita akan menitipkan pesan-pesan dan nilai-nilai yang harus dijaga di Pulau Tidung. Keindahan kata-kata akan bersatu dengan keindahan alam Pulau Tidung. Kesahajaan puisi akan menyingkap kebajikan nilai-nilai luhur yang diyakini masyarakat Pulau Tidung selama ini,” ujar penyair Chavchay Syaifullah.

Chavchay pun meminta kepada guru-guru di Pulau Tidung untuk bisa menuliskan puisi di jalan-jalan Pulau Tidung, terutama di bagian-bagian tempat yang paling ramai wisatawannya. Sehingga mereka tidak hanya melihat Pulau Tidung yang indah melainkan menyaksikan keindahan kata-kata dari masyarakat Pulau Tidung yang kreatif dan inovatif dalam menjaga kebudayaannya.     

“Saya coba andaikan puisi itu seperti udara. Kalau puisi di Pulau Tidung kotor dan tidak dirawat, maka udara kehidupan di Pulau Tidung bakal tercemar, bisa karena bakteri atau pun virus. Kesejukan udara harus dijaga, agar kehidupan yang didambakan bisa terjaga,” selorohnya. 

Dalam pelatihan puisi itu, guru-guru diminta menuliskan satu buah puisi tentang Pulau Tidung dan satu buah puisi tentang guru. Mereka juga diminta membacakan 2 buah puisi karyanya dengan metode pembacaan yang benar. Di akhir pelatihan, diambil 3 penulis puisi terbaik dan pembaca puisi terbaik. Hadiah yang mereka terima tentu tidak berarti apa-apa, kecuali sebagai motivasi untuk terus menulis puisi tentang Pulau Tidung, juga tentang aspek-aspek kehidupan lainnya yang perlu dihayati dengan penuh ketenangan dan keindahan.

Salah satu peserta bengkel puisi, Sugiyarti, mengaku senang bisa mendapatkan hal-hal baru yang bisa diajarkan pada siswa. Menurutnya, selama ini pengembangan metode penulisan dan pembacaan puisi di Pulau Tidung terasa sangat minim. “Saya sangat senang ada program seperti ini langsung masuk ke pulau,” katanya.

Peserta lainnya, Dian Mayasari, malah mengaku waktu 4 hari tidak cukup. Sebab, menurutnya, masih banyak yang perlu dipelajari oleh para guru, terutama guru bahasa.

“Harusnya waktunya lebih lama lagi, sehingga kami menjadi lebih paham apa itu puisi dan bagaimana menulis serta membaca puisi dengan baik,” ungkap Dian.

Pulau Tidung merupakan pulau yang lebih banyak memiliki sekolah dibanding pulau-pulau lainnya di Kepulauan Seribu. Sarana pendidikan di Pulau Tidung juga terasa lebih baik. Pemilihan Pulau TIdung sebagai tempat pelatihan puisi, diharapkan bisa melahirkan efek yang cepat kepada pengajaran puisi di pulau-pulau lainnya. 

“Kini puisi sudah berdenyut di Pulau Tidung. Jika puisi itu dilestarikan oleh masyarakat di sini, kita berharap kebaikan-kebaikan akan terus berdatangan di pulau yang menyimpan sejarah Raja Tidung XIII dari Kalimantan ini,” harap Chavchay. (HR)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...