Puisi Apocalypso 11

Janji Tuhan di Wuhan


Juftazani

 

Di akhir zaman pemimpin tak berbohong bukanlah pemimpin
Di atas bencana,
di bawah bencana,
di kiri bahaya
Di kanan wabah merajalela
Peperangan, bah tsunami, galodo atau gempa
Bersamaan meneriakkan murka langit dan bumi
Bagi sifat dajal manusia era ini
Masa depan adalah sebuah kapal
Sedang mencoreng-moreng nasib kita di hari ini

 

Awas, mumpung masih panjang usiamu
Muhasabahlah, hitunglah amalmu
Sebanding luruskah dosa kemurkaan jiwamu?
Bila kau berteriak,siapa yang akan mendengar jeritanmu
Di tengah sakratul maut
Jarak dan waktu terpaut
Segala rupa mencengkeram jiwaragamu enyahkan kemelut

 

Dicabut kenikmatan melihatmu
Dilenyapkan kenikmatan mendengarmu
Diangkat kenikmatan mencecapmu
Dunia terasa pahit
Fragmen-fragmen teknologi informasi yang terserak di eter
Menciptakan gelombang-gelombang hantu yang menyesatkanmu
Esok lusa sudah pasti ruhmu digulung
Diperintah pulang ke rumahNya
Esok dunia pun digengam lalu dicampakkan
Seperti mencengkeram tikar yang terbentang
Melayang diterbangkan badai
Bagi siapakah imanmu bertakhta?
Ataukah tiada?
Bagi Syetan atau Allahkah kepercayaanmu meraja?

 

Kemana kau akan pergi
Janji Tuhan dalam kitab suci bukan ilusi
Tak usah menunggu di padang mahsyar atau di lembah neraka
Sejak tragedi Tiannanmen Tuhan sudah memperingatkan mereka
Di Wuhan, kata-kata Tuhan sudah merajalela
Sayang mereka masih
Mengingkarinya
Kezaliman di Tiananmen dan di Uighur
Telah diterapkan Tuhan hari ini
Tapi mereka masih menunggu Tuhan pergi
Dari ‘badai corona’
Sampai mereka dihancurkan Tuhan
Seperti remuknya firaun
Bertekuk-lutut di bawah nama yang Agung dan Suci

 

Jabodetabek, 20 Februari 2020

-------------------------------

Juftazani, penyair, penulis novel "De Atjeh Oorlog", alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA