18 November 2018

Presiden JFC Dynand Fariz dan Heri Lentho Terima Penghargaan Menteri Pariwisata

Konfrontasi - Presiden "Jember Festival Carnaval" (JFC) Dynand Fariz dan seniman tari Heri Lentho dari Surabaya menerima penghargaan dari Menteri Pariwisata di Jakarta.

Henri Nurcahyo, pengelola Pusat Informasi Kesenian Jawa Timur "Brang Wetan" di Surabaya, Rabu (10/12) menjelaskan bahwa penghargaan untuk Dynand Fariz diberikan untuk bidang penyelenggara acara seni pertunjukan, sedangkan Heri Lentho sebagai kreator seni pertunjukan.

"Bersama mereka, juga ada enam seniman lainnya yang mendapat penghargaan dengan katagori berbeda. Penyerahan penghargaan tersebut dilakukan oleh Menteri Pariwisata RI Arief Yahya di halaman Museum Fatahillah, Kota Tua Jakarta, Selasa (9/12) malam. Pada saat yang sama juga dincanangkan pembangunan ruang pertunjukan seni dan budaya kawasan Kota Tua Jakarta," katanya.

Ia menjelaskan bahwa Dynand Fariz dikenal sebagai seniman tata busana yang sukses menggelar JFC selama 12 tahun yang sudah melegenda dan terkenal hingga ke mancanegara. Kegiatan itu kini ditiru oleh banyak daerah di Indonesia.

Alumnus jurusan seni rupa FBS IKIP Negeri Surabaya (Unesa) dan Sekolah Mode ESMOD Jakarta dan Paris itu sudah meraih berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri. Di antaranya, The Creative & Innovative Institution (2012), Tokoh Industri Kreatif (2012), Inspirator Social Enterprenuership Dunia katagori Fashion Canival di Brazil.

Sementara Heri Lentho yang bernama asli Heri Prasetyo dikenal sebagai seniman yang tidak pernah bisa berdiam diri dan selalu berkarya sepanjang tahun. Alumnus jurusan seni tari IKIP Negeri Surabaya berpengalaman dalam berbagai level produksi teater, tari, musik dan termasuk sebagai senior stage manager di Jawa Timur.

Lelaki kelahiran Malang 13 Mei 1967 ini dikenal sebagai koreografer dan berpengalaman dalam menyiapkan berbagai kegiatan kesenian.

"Istimewanya, meski Lentho selalu sibuk mengerjakan karya pesanan, namun dia masih sempat membuat karya pertunjukan menurut idealismenya sendiri. Sendratari 'Rajapatni' adalah karya idealis mutakhir yang digelar di pelataran Candi Brahu, Trowulan, bersama penari-penari senior, 22 November 2014," katanya.

Lentho juga pernah meraih penghargaan penata tari terbaik tingkat nasional dan penyaji terbaik Festival Seni Pertunjukan Nasional.

"Meski demikian, Lentho dan Dynand Fariz, sebagai seniman potensial dan banyak pengalaman ini ternyata sama sekali belum pernah mendapatkan penghargaan seni budaya dari Gubernur Jawa Timur yang menjadi tradisi tahunan itu," ujar Henri Nurcahyo.

Sementara penerima penghargaan dari Kementerian Pariwisata selengkapnya adalah, kategori kreator diberikan kepada Ali Syukri (Sumatera Barat), Heri Lentho (Jawa Timur), Syukri Ramzan (Bengkulu).

Kategori pengelola diberikan kepada Indrawati Lukman pemilik Studio Tari Indra (Bandung, Jawa Barat), Amna Kusumo dari Yayasan Kelola (DKI Jakarta). Kategori kritikus diberikan kepada Afrizal Malna (DIY, sekarang sedang tinggal di Berlin, Jerman).

Untuk kategori penyelenggara event seni pertunjukan diberikan kepada Dynand Fariz (Jember Fashion Carnaval, Jember, Jawa Timur), Maria Darmaningsih, Siti Nurchaerani Kusumastuti dan Melina Surya Dewi, penyelengara Indonesia Dance Festival (IDF).

Pemilihan untuk pemberian penghargaan itu melibatkan tim juri yang dipimpin oleh Sukatno dengan anggota Nano Riantiarno, Juju Masunah, Chairul Slamet, Irawati Kusumoasri, Julianus P. Limbeng, dan Benny Johanes.(rol/ar)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...