Panggilan Rasa Kemanusiaan dan Kebangsaan Menggedor-gedor jantungmu, Agus

Juftazani

 

“Panjang umur kawan-kawan!, teriak Agus Lenon,”
Dari kota Situbondo di tepian Sampean
Menuju tepian Gajah Wong
Akhirnya bertengger di atas bibir Tjiliwung
Sejenak perjuanganmu seperti Semaun yang bekerja di Staats Spoor Maatschapij
Ouw, panggilan rasa kemanusiaan dan panggilan rasa kebangsaan
Menggedor-gedor jantungmu
Atas penderitaan dan perilaku tidak adil dialami bangsa akibat penjajahan
Semaun campakkan kariernya sebagai ambtenaar
Terjun dalam pergerakan nasional
Agus Lenon tampik semua jabatan yang ditawarkan
Ia buang jauh kaki tangan kekuasaan yang menaikkan pamornya
Ia kini yang terbaring di pinggir kali Tjiliwung, berbisik lembut bersama bambu betung
Dan semarak pohon yang berpesta kesegaran setiap hari

 

Untuk mengingatmu cukup dengan dua penggal kata, Agus Lenon
Tapi bukan Lenon generasi bunga yang melahirkan “Le it be”
Yang ,menghentak kalangan pencinta “The Beatles” sedunia
Cukup aku ingat kamu, dengan Leon Trotsky, sang revolusioner Rusia, Ali Shariati
Tokoh aktifis Iran yang melegenda, Fidel Castro, sang presiden Kuba yang berani
Menentang Amerika, simbol penghisapan dan kezaliman terbesar dunia
Tokoh teologi pembebasan Peru, Gustavo Gutiérrez
Dan sebagai aktualitasmu sebagai Muslim pencinta Mustadh’afin
Kau cantumkan satu nama yang tak pernah padam
Di pelita jiwamu; Kyai Fakhrudin
Satu penginspirasi terbesar kepada kaum yang tak diberdayakan dan dicampakkan

 

Kau selalu tak setuju dengan rezim
Siapa pun rezim di Indonesia tak peduli keadilan dan kemanusiaan
Kau adalah komplotan orang-orang liberal yang berpikir bebas
Dan menerjang dan sikut sana dan sepak sini
Itu pasti salah duga
Kau adalah mereka yang bernaung di bawah panji-panji komunis
Sangat tidak benar, walau pikiran-pikiranmu selalu keluar berbau Marxis
Kau adalah bagian dari gerakan Syiah yang banyak dicurigai mendominasi gerakan
Memerdekakan Islam dunia
Di tengah kecemburuan Sunni yang lambat tak peduli, bebal dan selalu menemui jalan buntu
Dan seakan rela dan senang menjilat dan dijajah
Ah, Sebodo amatlah, kami selalu rindu lecutan-lecutan pendapatmu
Yang menggelorakan api perjuangan
Kau tak menggunakan kekerasan untuk menyuarakan aspirasi orang melarat
Meski kau telah menutup usia, sepak terjangmu tetap dikenang
Di tepi Tiliwung, tempatmu sekarang
Beristirahatlah dengan tenang

 

Jabodetabek, 16 Januari 2020

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...