Pak Latief: Serangan Umum 1 Maret 1949, Soeharto Bukan Hero, Hanya Makan Soto

“Saat 'Serangan Umum 1 Maret 1949' berlangsung, Soeharto sedang makan soto babat. Film “Janur Kuning” itu banyak bohongnya. Bukan dia yang menggagas dan memimpin serangan itu. Dia hanya pelaksana lapangan. Ia hanya Komandan Wehrkreisse III berpangkat Letnan Kolonel. Aku saksinya.

 

KONFRONTASI -  

Sore hari pasukan Belanda berhasil masuk kota, dan kami bertempur dengan mereka. Saya berada di Alun Alun Utara. Mundur ke Selatan di Desa Dongkelan.

 

 

Kalimat itu keluar dari mulut Pak Latief. Nama lengkapnya Kolonel Abdul Latief. Kolonel adalah pangkat terakhir sebelum dia dipenjara. Mantan Komandan Brigif I Kodam V Jaya (Jakarta Raya) saat “Peristiwa G30S” meletus.

Pak Latief adalah salah satu tokoh yang berperan dalam peristiwa penculikan para jenderal Angkatan Darat (Pahlawan Revolusi) saat itu. Selain dituduh menggulingkan pemerintahan yang sah, juga dituduh membunuh para jenderal tersebut.

Kolonel Latief

Kolonel Latief (kiri). (Foto: Google)

 

 

 

Akhirnya, pengadilan Mahmilub saat itu (1978) menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup. Setelah dari Rutan Salemba, lalu ia dipindah ke LP Cipinang. Lebih dari 30 tahun ia mendekam di ruang jeruji besi sebagai Napol (narapidana politik).

Pak Latief mengatakan hal itu dengan tertawa, seakan mengejek mantan koleganya di Angkatan Darat itu. Tetapi, aku yang mendengarkannya justru terkejut. Dengan serius aku ingin mengetahui penjelasannya lebih lanjut. Bagiku ini fakta baru. Dan baru saja aku dengar dari pelaku peristiwa bersejarah itu, terkenal dengan sebutan “Enam Jam di Yogyakarta”.

 

Di LP Cipinang, saat itu kami berdua sedang ngobrol di ruang bezukan. Mumpung para tamu belum datang, aku iseng bertanya kepadanya tentang pengalamannya bersama Soeharto, mantan jenderal yang jadi presiden dan menjebloskannya dalam penjara.

Walau usianya sudah senja, lahir 27 Juli 1926, Pak Latief masih terlihat sehat. Kalau bercerita penuh semangat. Kendati sudah dipenjara lebih dari 30 tahun dan mendapat siksaan luar biasa, tidak nampak penderitaan di raut wajahnya. Justru kata-kata yang membuat aku tertawa sering meluncur dari mulutnya.

Mereka membayonet kakiku. Mereka menembak tempurung kaki kiriku dan menghancurkannya.

Secara fisik memang sudah tidak tegap lagi. Sudah tidak lagi menggambarkan kalau dirinya dulu seorang militer tangguh, yang terlibat dalam pertempuran di setiap sudut pergolakan negeri ini.

Film Janur KuningFilm Janur Kuning (Foto: Google)

Malahan, kakinya cacat. Kaki kirinya lebih pendek dari kaki kanannya. Agar seimbang, Pak Latif kesehariannya di LP Cipinang memakai sepatu sandal lebih tinggi di sebelah kiri.

“Mereka membayonet kakiku. Mereka menembak tempurung kaki kiriku dan menghancurkannya. Padahal, saat ditangkap (11 Oktober 1965) aku tidak melawan. Dua tahun setengah di-gips. Setelah membusuk, baru mereka mengoperasi kakiku,” katanya.

Pak Latef lantas kembali menceritakan riwayat hidupnya. Ternyata, sejak usia 15 tahun sudah berlatih militer. Saat itu, Belanda mewajibkan dirinya latihan militer sederhana untuk menghadapi kemungkinan serangan Jepang.

Belum sempat bertempur dengan pasukan Jepang karena Belanda keburu menyerah, Pak Latief ditahan oleh Jepang. Beberapa saat kemudian dibebaskan.

“Aku sempat bersembunyi karena tidak mau direkrut menjadi tentara Jepang. Namun, Tahun 1943 sampai 1944, akhirnya aku berlatih militer di Pusat Latihan Pemuda (Seinendan). Lalu, dilanjutkan latihan gerilya di PETA (Pembela Tanah Air) Banat Lamongan,” ujarnya lagi.

Pria berkacamata ini ternyata salah satu pelaku pertempuran 10 November 1945. Tanggal di mana terjadi pertempuran heroik itu kemudian ditetapkan sebagai Hari Pahlawan.

“Saya dengan pasukan satu kompi pada tanggal 7 November dikirim ke Kota Surabaya. Tentara Inggris mengancam akan menggempur kota Surabaya lewat darat, udara dan laut, pascainsiden “Hotel Yamato” di Tunjungan,” kenangnya.

Pak Latief menjadi saksi gagah beraninya rakyat Surabaya melawan serbuan ganas pasukan Inggris. Pak Latief dan pasukannya tak kuasa menahan gempuran artileri dan pesawat udara. Pada malam hari mereka menyingkir ke Tandes menuju Cerme.

Kolonel LatiefKolonel Latief. (Foto: Petrus)

Karier militernya terus berlanjut. Tahun 1947 menjabat Komandan Medan Brigade IV (MB IV) di daerah Wonosobo-Temanggung.

Saat Ibukota di Yogyakarta mendapat serangan dari Belanda pada tanggal 19 Desember 1948 (Agresi Militer II), Pak Latief dengan pasukannya berada di dalam Kota Yogyakarta, di bawah kendali Komando Militer Kota yang dipimpin oleh Letkol. Latief Hendradiningkrat.

“Sore hari pasukan Belanda berhasil masuk kota, dan kami bertempur dengan mereka. Saya berada di Alun Alun Utara. Mundur ke Selatan di Desa Dongkelan. Dari sana yang jaraknya 500 meter dari batas kota, saya bawa pasukan malam hari untuk bertempur dengan pasukan Belanda, satu orang prajurit gugur.”

Pemilik nama Gus Dul saat mudanya, berbulan-bulan dia dan pasukannya berada di Sektor Selatan. Tiap hari pasukannya digempur terus menerus. Kemudian dipindah ke Sektor Barat.

“Terjadi pertempuran hebat antara peleton yang saya pimpin dengan pasukan Belanda yang sudah menduduki Bantul. Peleton saya hancur, semua meninggal, hanya tersisa saya dan pengawal,” ujarnya dengan sedih mengenang peristiwa kelabu tersebut.

Kemudian, ia menempatkan diri di daerah Demakijo, hanya berjarak 500 meter dari batas kota.

“Saat itu garis komando saya kepada Letkol Soeharto. Letkol Soeharto Komandan Brigade III/ Komandan Wehrkreisse. Pada tanggal 1 Maret 1949 saya diperintahkan Letkol Soeharto melakukan serangan umum.”

“Saat itu saya diinstrusikan menyerang dan menduduki sepanjang jalan Malioboro, dari stasiun Tugu sampai Pasar Besar dekat Istana Yogyakarta.”

“Perintahnya bumi hangus, membakar gedung tinggi dan pertokoan. Tetapi tidak jadi kulakukan, takut membakar rumah penduduk di sekitar daerah tersebut,” katanya kini penuh semangat.

Aku hanya terbengong-bengong mendengar cerita Pak Latif. Apa yang diceritakan seperti dalam adegan dalam film perang. Terutama, ketika dia menggambarkan pertempuran dari rumah ke rumah karena balasan dari tentara Belanda.

Ingatan Pak Latief cukup baik, ia menyebut dua orang gugur, dan 50 orang pasukan pemuda gerilya kota mati ditembak tentara Belanda.

Akhirnya, pasukan Pak Latif mundur keluar kota.

“Di Desa Sudahatan atau Kuncen kira-kira Pukul 12.00 siang bertemulah saya dengan Letkol Soeharto, yang menempati markas saya di desa itu. Pada waktu itu dia sedang menikmati makan soto babat.”

“Setelah memerintah saya agar segera menyerang pasukan Belanda di Pemakaman Kuncen, dia undur diri, kembali ke pangkalan.”

“Jadi, kalian ini ditipu semua oleh Harto lewat film 'Janur Kuning',”ujarnya dengan muka melucu.

Film “Janur Kuning” yang dimaksud Pak Latief adalah film yang bercerita tentang “Serangan Umum” 1 Maret ke Kota Yogyakarta. Mungkin lebih dari 10 kali aku menonton film itu di bioskop. Termasuk film yang wajib ditonton oleh anak sekolah. Belum lagi yang ditayangkan di TVRI.

Film yang mulai diputar tahun 1979, disutradarai oleh Alam Rengga Rasiwan Surawidjaja, mengisahkan tokoh kepalawanan Soeharto yang saat itu berpangkat Letnan Kolonel. Digambarkan dalam film yang menelan biaya pembuatan mencapai Rp 350 juta tersebut, Soeharto tokoh sentral dan paling menonjol. Ia penggagas sekaligus memimpin serangan tersebut.

Tapi hari ini aku baru saja mendengar fakta kalau sang presiden ini dulunya sedang makan soto babat saat kejadian.

Manipulasi Sejarah

Malam semakin larut. Hening sepi mulai menghinggapi suasana blok 3E. Saking sepinya, suara sirine palang pintu kereta api mulai terdengar. Bila berbunyi, pertanda kereta api akan lewat. Tak berapa lama kemudian, bunyi gemuruh suara mesin diesel, pertanda kereta api sudah hampir memasuki Stasiun Jatinegara, atau sebaliknya keluar dari stasiun itu menuju arah Bekasi.

Aku masih terjaga, sambil merokok dan ditemani secangkir kopi hitam, lamunanku mulai mengembara.

Teringat kembali perkataan mantan Komandan Brigif Jaya di ruang bezukan tadi pagi. Sang kolonel membuka fakta sejarah yang selama ini ditutupi oleh Soeharto, yang sudah tiga puluh tahun lebih berkuasa.

Tentang Letnan Kolonel Soeharto makan soto babat saat serangan umum 1 Maret belum pernah aku dengar sebelumnya.

Pak Latief ternyata sering mengatakan fakta ini kepada semua Tapol dan Napol di LP Cipinang. Bahkan, kepada wartawan, tapi tidak ada yang berani menuliskan kisah tersebut. Bisa dimengerti, karena media takut terhadap penguasa Orde Baru itu yang sering membreidel media.

Saat diadili, Pak Latief juga mengatakannya di hadapan hakim, saat membacakan pledoi. Aku kagum atas keberaniannya membuka aib sang jenderal, termasuk fakta kalau Soeharto mengetahui rencana menangkap Jenderal Ahmad Yani cs, yang disebut sebagai Dewan Jenderal.

Sebuah pernyataan berisiko tinggi, di mana Soeharto tak segan-segan menghabisi lawan politiknya dengan berbagai cara yang kotor.

Sebenarnya, Pak Latief sudah mendapatkannya melalui siksaan luar biasa. 10 tahun dia disekap di sel isolasi. 13 Tahun kemudian baru disidangkan di Mahmilub. Sebuah tindakan yang biadab tak berperikemanusian. Tujuannya tidak lain agar Pak Latief bungkam atas kisah Soeharto di masa lalu.

Semasa SD sampai SMA, saya hanya memahami kalau sang hero dalam peristiwa tersebut adalah Soeharto. Film itu begitu mempengaruhiku dan mayoritas masyarakat Indonesia saat itu.

Ketika di kampus, karena aku mahasiswa jurusan sejarah, sering mendiskusikan film tersebut. Ada yang janggal dan berbau manipulasi sejarah, dengan menonjolkan tokoh Soeharto.

Diceritakan Soeharto adalah penggagas serangan tersebut. Dalam film digambarkan dia berjalan 7 hari untuk mengkonsolidasikan anak buahnya untuk mempersiapkan serangan tersebut. Dalam film tersebut tidak ada tokoh Latief. Semua yang berbau G30S PKI (istilah yang dipakai pemerintah) dileyapkan sebagai fakta sejarah.

Ketokohan Soeharto yang ditonjolkan dalam fim tersebut sangat tidak masuk akal, karena saat itu pangkatnya hanya Letnan Kolonel.

Dia itu hanya Komandan Brigade X, merangkap sebagai Komandan Wehkreise (pertahanan daerah) III. Harto dibawah Panglima Divisi III sekaligus Gubernur Militer III, yang dijabat Kolonel Bambang Sugeng.

Kekuasaan Divisi III meliputi Wehrkreise I,II, dan III. Wehrkreise I, dibawah pimpinan Letnan Kolonel Moch. Bachroen, mengendalikan daerah-daerah Banyumas, Pekalongan dan Wonosobo,

Wehrkreise II di bawah pimpinan Letnan Kolonel Sarbini, meliputi daerah Kedu (minus Wonosobo) ditambah Kabupaten Kendal (mulai dari Semarang) dengan posko di Bruno (sebelah utara Purworejo), terdiri dari tujuh SWKS.

Wehrkreise III di bawah pimpinan Letnan Kolonel Soeharto, meliputi daerah Yogyakarta, terdiri dari 6 SWKS.

Perkataan Pak Latif sangat relevan, ”mana mungkin Harto (sering dia menyebut demikian) melangkahi Panglima Divisi III, karena yang diserang adalah kota Yogyakarta. Masih ada beberapa lagi tingkatan komando di atasnya.”

 

Di atas divisi masih ada Panglima Tentara dan Teritorium Djawa (PTTD) atau Panglima Komando Djawa, Kolonel AH Nasution. AH Nasution sendiri di bawah Jenderal Soedirman.

Serangan itu sangat penting, karena ingin menunjukan kepada dunia (PBB) kalau tentara Indonesia masih eksis. Belanda selalu berpropaganda menolak resolusi PBB dengan alasan tentara Indonesia sudah tidak ada.

Kolonel LatiefKolonel Latief dilingkari merah. (Foto: Petrus Haryanto)

Karena sangat pentingnya, melibatkan berbagai unsur, termasuk pemerintahan sipil dan rakyat. Bukan hanya Wehkreise III saja, tetapi juga Wehkreise I dan II, untuk menghadang bala bantuan Tentara Belanda dari Magelang dan Semarang. Bahkan divisi II yang berkedudukan di Surakarta, dengan Komandannya Kolonel Slamet Riadi juga dilibatkan dalam serangan itu.

Serangan tersebut dipastikan harus sepersetujuan dan perintah Panglima Jenderal Soedirman. Karena Kota Yogyakarta yang diserang maka harus mendapat persetujuan Sultan Hamengkubuwono IX, merangkap menjadi Menteri Pertahanan saat itu.

Bukan hanya dalam film Janur Kuning saja Soeharto mengkultuskan dirinya, tetapi ada dua yang lainnya, yakni; “Serangan Fajar” dan “ Penumpasan G30S PKI”.

Termasuk buku-buku sejarah, Orde Baru banyak melakukan manipulasi sejarah.

Sayang, ngobrolku dengan Napol yang pandai membuat gitar akustik di dalam penjara itu terhenti karena tempat bezukan sudah ramai pengunjung. Padahal, dia sempat melontarkan kalimat Soeharto mengetahui rencana Jenderal Ahmad Yani dan jenderal AD lainnya akan diambil untuk diserahkan kepada Presiden Soekarno karena mereka akan melakukan kudeta lewat Dewan Jenderal. [Jft/TAGAR.ID]

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA