21 November 2019

Kiamat Diawali Oleh Penguasa Yang Menghakimi Dirinya Sendiri Dengan Hukuman Mati

Tetaplah melihat cahaya dalam hidup ini
Rakyat telah melihatnya nun jauh di ujung labirin yang sempit
Tubuh-tubuh kelaparan, penyakit, keputus-asaan dan berhimpit
Lebih besar harapan untuk hidup yang diukir untuk jalan di alam semesta ini
Rakyat penyelamat yang tak pernah mati ditimpa marabahaya dan bencana

 

Tetaplah melihat cahaya di relung kehidupan ini
Penguasa tak melihatnya dimanapun mereka memiliki istana
Seorang menteri negeri yang porak-poranda oleh kemelut ekonomi
Berteriak: Siapa yang akan selamat dari gulungan gelombang tsunami?
Presiden dan kolega para menterinya
mengapung di atas jelaga terbakarnya hutan dan jiwajiwa melata
menjalani sebuah perjalanan di lorong-lorong kegelapan,
gesekan batu membara, bercak-bercak darah korban kekerasan penguasa
terus mengukir sejarah
mereka bergerak dengan kepercayaan yang sangat rendah
Dan meyakini kegelapan kepala mereka yang terus membuat kerusakan dan
makar yang tiada akhirnya
Mulut-mulut kotor penguasa terus mengoceh, menghujat dan membakar telaga sunyi
Dengan tembakan-tembakan meriam kebengisan, kebencian adu domba
Mereka perlahan mati akibat disembur aliran partikel penghancur matahari
Dengan gerak zigzag, penguasa terpental di antara dinding-dinding beton berat
Di antara perbatasan galaksi yang membuat otak mereka terpapar sinar kosmik bebintang
Tak tahu sesaat lagi sinar ultraviolet B dari lapisan ozon
Mengelupas kulit demi kulit kekuasaan mereka yang kian menipis
Bagai tipisnya retina mata fir’aun rusak karena radiasi
Dan Abrahah mengundang kekuatan tak terlihat yang menghancurkan
balatentara gajah Etiopia (Al-Habsyi)
Porak-poranda dicakar penyakit cacar dan diare yang sangat akut di kota Mekah
Begitu bodohnya penguasa, optimisme hidup mereka yang penuh dusta
membahayakan keselamatan makhluk hidup di permukaan bumi
kiamat bukan impian atau kenyataan
tapi sebuah keyakinan yang tak dapat dipermainkan
sulur-sulur kitab suci dari Gua Hira telah mengatakan:
DIA tak pernah ingkar janji
Dan kabar yang sering diungkap sang Rasul dalam kitab suci ter’update’ itu selalu berkata:
Setiap penguasa telah menghakimi dirinya sendiri dengan sebuah hukuman mati
Mereka tertimbun oleh reruntuhan batu-batu peradaban palsu yang mereka bangun
Dengan janji-janji yang tak pernah mereka tepati

 

Jakarta, 12 Oktober 2019

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Oleh: Juftazani, penyair, penulis novel "De Atjeh Oorlog", alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...