19 November 2019

Kiamat di Planet Bumi yang Terus Mengecil

Setiap pagi kaki bumi yang mengecil terus mengeluarkan nanah
Dimana pohon jeruk telah lama mati
Para petani di Karawang pun selalu saja mengantuk
Ketika musim tanam tiba,
Enggartiasto Lukita, menteri perdagangan kita
Telah mengimpor berbagai jenis pangan yang telah ditanam petani
Tak usah tanam bawang, sudah diimpor
Jangan menanam padi beras sudah diimpor
Dilarang membuat garam, garam luar negeri yang lebih halus dan bermutu
sudah diimpor
Tapi ada saja petani yang membuat garam secara mandiri
kolam pembuatan garam di pantai selatan jogja untuk nelayan rusak
sejak tiga tahun lewat
orang-orang di Bali pun sibuk membuat garam
untuk menyelamatkan sepetak dapur mereka yang bau
ikan-ikan laut yang ditangkap nelayan tak terawat dan membusuk

 


Di Amerika manusia makin pesimis hadapi kehidupan
Massachusets 2050 para petani tak mampu lagi menanam gandum
Orang-orang sibuk mengendalikan drone
Setiap drone menjatuhkan kokain di malam gelap
Di pagi hari kokain yang dijatuhkan sudah lenyap tanpa bekas
Polisi kehilangan jejak dan perang antara bandit kian merebak
Tumpahan minyak menutupi permukaan di pantai-pantai California,
Sumur-sumur beracun tak dapat diminum
Orang-orang kelaparan, musim kering kian merasuki pundak bumi
Para pemimpin negara-negara di dunia antri ke dokter penyakit syaraf
Perang antar bandit pecah seperti bisul penuh nanah dan bau
Tak akan ada yang selamat di planet yang terus mengerucut ini
Segelintir manusia rakus, menghabiskan separoh makanan di bumi
Pemerintah berbagai negara sibuk menyelamatkan rakyatnya yang kelaparan
Tapi para pendeta melarang memberi makan rakyat kecil
Para pemimpin dan tokoh harus diselamatkan dari kelaparan ruhani
Sementara pusat kaum ruhani itu sendiri
kering kerontang dari kasih dan cinta
Kecuali kasih yang menimbulkan bencana

 

Ekosistem kehidupan manusia kini
Sudah memasuki masa compang-camping yang sukar diperbaiki
Para lesbian dan kaum homoseks terus berpesta di taman-taman
Yang penuh perabot rumah yang berantakan
Apokalipso, selamatkan dunia
Apokalipso, selamatkan bumi yang terus mengerucut kecil sebesar tomat
Bumi dan segala isinya sudah memasuki tanda-tanda besar kiamat
Bagai merahnya tomat dan panas matahari kini tak dapat ditakar
Tanda-tanda kematian tersebar di setiap sudut-sudut bumi yang makin gelap
Terus terpecah dan terbakar

 

.
Jakarta, 11 Oktober 2019


 

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Oleh: Juftazani, penyair, penulis novel "De Atjeh Oorlog", alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...