13 November 2019

Islam Nusantara: Kiblat Muslim Dunia

Konfrontasi - Dalam kemajemukan, Islam Nusantara dinilai sebagai kiblat kehidupan Muslim di dunia pasca runtuhnya Andalusia. Warisan terbesar peradaban Islam yang dikembangkan di nusantara adalah budaya toleransi dan moderasi keberagamaan yang kokoh.

“Islam Nusantara sangat kaya perspektif, mulai dari ekspresi seni tari hingga kajian sufistik. Dalam domain sosial dan humaniora, Islam Nusantara adalah role model Islam yang damai dan mampu hidup berdampingan dengan agama dan kepercayaan apapun,” papar Komarudin Hidayat dalam Konferensi Internasional bertajuk Islam Nusantara Past and Present di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Rabu (24/9).

Senada dengan Komarudin, Tommy Christomy menyebut bahwa jasa peradaban Islam di nusantara adalah bersatunya kerajaan-kerajaan kecil dari Aceh hingga Papua. Teks-teks berbahasa melayu yang ditulis dalam aksara Arab Jawi mampu menjadi pintu masuk peradaban tulis di nusantara.

Peneliti teks klasik dari Universitas Indonesia (UI) itu menjelaskan bahwa teks sastra melayu Islam berperan besar tak hanya dalam hal Islamisasi tetapi juga sastra nusantara secara umum. Namun,  perkembangan tradisi tulis mulai dihilangkan ketika penjajah Belanda memaksakan aksara latin.

“Sejak dipaksa meninggalkan tulisan aksara Jawi untuk digantikan dengan aksara Romawi, bangsa Indonesia mengalami keterputusan selama beberapa dekade. Hingga muncul sejumlah karya produk dari pendidikan Belanda pada abad ke-20,” jelasnya.

Sementara itu, arkeolog Prancis, Prof. Arlo Griffiths ,menegaskan bahwa banyak produk budaya Islam yang sudah menyatu ke dalam budaya lokal tanpa disadari.

“Sebelum kedatangan Islam, masyarakat Indonesia tak mengenal pembuatan nisan pada makam” ujarnya.

Namun, ada masalah mendasar dalam mengembangkan peradaban Islam Nusantara ini, yaitu kurangnya kepercayaan diri dari masyarakat di nusantara sendiri.

“Masyarakat kita merasa minder jika berhadapan dengan masyarakat Islam dari timur Tengah atau Asia Selatan. Mereka merasa kuatir jika Islamnya tak murni,” sebut Dr Jamhari yang juga arkelolog UIN Jakarta.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...