12 November 2019

Hampir Punah: Jejak Batalyon Peta Tinggal Tugu Kusam dan Berganti Mal Megah

KONFRONTASI -  TUGU bercorak loreng hijau dengan helm tentara bertengger di atasnya itu tak menonjol dan menarik perhatian pejalan kaki dan pengendara yang melintasi deretan pertokoan, Jalan Veteran, Kota Tasikmalaya, Jumat, 4 Oktober 2019 sore. Kendati berada di depan sebuah pusat perbelanjaan, lokasinya berada paling pojok dekat bangunan anjungan tunai mandiri (ATM). Para pelintas dari arah Nagarawangi atau dari Pasar Wetan yang tak awas matanya kemungkinan besar melewatkan tugu tersebut. 

Kehadirannya seperti noktah kecil atau mungkin tertelan  kemegahan bangunan pusat perbelanjaan yang lebih mencolok. Padahal, tugu itu punya nilai sejarah tentang keberadaan markas tentara sukarela Pembela Tentara Tanah Air (Peta) di Tasikmalaya.

Serdadu yang didirikan oleh Jepang selama masa pendudukannya di Tanah Air punya kontribusi sangat besar terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia. Unsur-unsur pemuda Peta menjadi bagian Badan Keamanan Rakyat yang kemudian menjadi Tentara Keamanan Rakyat yang berdiri pada 5 Oktober 1945. 

Di Peta, para pemuda digembleng kemampuan militer yang menjadi bekal mereka saat berjuang melawan agresi Belanda serta melucuti persenjataan Jepang yang kalah perang. Akan tetapi, jejak bersejarah Peta di Tasikmalaya bukan hanya tak menyita perhatian.

Keberadaan tugu tersebut juga tampak kusam. Hanya secul tulisan pada tugu yang bisa menjadi penanda nilai sejarahnya. "Lokasi ini bekas Batalyon Peta Dai Ichi & Dai Ni Dai Dan," demikian tulisan yang tertera di badan tugu. Peresmian tugu berlangsung pada 13 Juni 2000 oleh Panglima Kodam III/Siliwangi saat itu Mayor Jenderal TNI S Supriadi, SIP, Msc. 

Bagian bawah tugu juga bertuliskan pesan Presiden Sukarno mengenai kiprah Peta. "Peta adalah alat yang vital bagi revolusi kita dan mereka adalah patriot dan pahlawan revolusi dalam mencapai Indonesia merdeka," tulis Bung Karno. Lalu di mana dan bagaimana bentuk markas Peta Tasikmalaya? Ternyata bangunan tersebut telah lenyap dan berganti pusat perbelanjaan tersebut.

Sebelum menjadi pusat perbelanjaan, lahan bekas markas sempat pula menjadi Terminal Gunungpereng. Hal itu dituturkan Didi, pria 76 tahun, juru kebersihan di RT 1 RW 1, Gunungpereng, Kelurahan Cilembang, Kecamatan Cihideung. Sekira 1987, terminal dibongkar. "Pindah ke Cilembang terminal teh," ucap Didi di Gunungpereng, Jumat (4/10/2019). Didi juga mengaku pernah mendengar keberadaan markas Batalyon Peta Tasikmalaya di lokasi tersebut.

Tetapi ia tak terlalu paham bagaimana cerita para pemuda yang berlatih di markasnya. Namun, ia menegaskan kawasan Gunungpereng memang merupakan kawasan militer atau tempat berlatih prajurit tempo dulu.

"PR" sempat menanyakan kisah markas Peta Tasikmalaya kepada Zainal Aboedin Alamsyah (87), Ketua ‎Harian Dewan Harian Cabang Badan Pembudayaan Kejuangan 45 Kota Tasikmalaya sekaligus Ketua Dewan Pertimbangan Legiun Veteran RI Tasikmalaya beberapa waktu lalu.  Aboedin menyebut terdapat dua markas Batalyon Peta di kawasan Priangan Timur. Selain di Tasikmalaya, markas Peta lain berada di Pangandaran. 

Dari penelusuran arsip dan dokumen yang disusun mantan pejuang kemerdekaan dan Wakil Ketua LVRI Macab Kota & Kabupaten Tasikmalaya Letna Dua Purnawirawan TNI Suwaryo Ranuatmadja, kisah Batalyon Peta di Tasikmalaya agak terkuak. Pendirian Peta merupakan inisiatif salah satu perintis Kemerdekaan Gatot Mangkupradja yang tergabung dalam Badan Usaha Penyelidikan Kemerdekaan Indonesia kepeada Pemerintahan Tentara Jepang. "Tentara Jepang menyetujui dan dibentuklah Gyugun (Tentara Sukarela Pembela Tanah Air) dengan syarat kesatuan tertinggi Dai Dan (batalyon)," tulis Suwaryo.

Di Priangan dibentuk lima Dai Dan. Peta Priangan Dai Ni Dan di Tasikmalaya dan Pangandaran diperkirakan awalnya satu di bawah pimpinan Dai Dancho Parjaman, Chudancho Maskun serta para Shodancho R Umar Wirahadikusumah, Dede Iskandar dan Bedjorahardjo. Batalyon kemudian menjadi dua. "Dai Ni Dai Dan ini dipindahkan ke Pangandaran, di Tasikmalaya diganti oleh Dai Ichi Dai Dan di bawah Pimpinan Dai Dancho Sofyan Iskandar," kata Suwaryo.

Pemindahan tersebut terjadi selepas dirinya dilantik sebagai anggota Peta. Suwaryo pun menuturan, lokasi latihan Peta untuk menembak berlangsung di Lapangan Udara Cibeureum dibimbing Shodancho Umar Wirahadikusumah. Kini, lokasi itu bernama Lanud Wiriadinata, Kota Tasikmalaya.

Peta adalah kawah candradimuka para pemuda bumiputra berlatih kemampuan militer. Namun, para serdadu muda tersebut juga merasakan langsung penderitaan rakyat di bawah kependudukan negara matahari terbit. Suwaryo melihat langsung penderitaan para santri Pesantren Sukamanah yang dipimpin Kyai Haji Zainal Mustofa yang ditangkap Jepang dan dibawa ke penjara Tasikmalaya. Para santri itu ditendang hingga berjatuhan dari truk yang mengangkutnya. Mayat-mayat warga yang mati kelaparan juga kerap ditemukan para prajurit Peta yang tengah berpatroli. 

Ditempa kerasnya latihan Jepang dan melihat langsung penderitaan rakyat, nasionalisme dan patriotisme hinggap pada diri prajurit- prajurit Peta asal Tasikmalaya. Setelah Peta, Heiho, Yogoketai dilucuti dan dibubarkan Kempeitai karena Jepang kalah perang, para mantan prajurit tersebut berkumpul. Mereka merancang penyerbuan terhadap markasi Kempeitai di Kota Tasikmalaya pada 18 September 1945. Penyerbuan itu sukses melucuti Kempeitai tanpa ada pertumpahan darah. Akan tetapi, kiprah para pemuda Peta Tasikmalaya kini hanya tinggal cerita dan menyisakan tugu paling pojok di pusat perbelanjaan. Bangunan asli musnah berganti salah satu mal megah di Kota Tasikmalaya.(Jft/PR)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...