18 January 2020

George Soedarsono Esthu, Pengalaman sebagai Jurnalis

KONFRONTASI- Saya menulis sajak sejak menjadi pengelola majalah dinding di Sekolah Pendidikan Guru Bruderan Purworejo. Dari sanalah saya memulai karier menulis, terutama mengawali jurnalisme yang kelak menjadi suatu hal yang saya geluti secara serius. Ketika hendak berangkat ke Jakarta, oleh Romo, saya dibekali 22 potongan artikel di Harian Kompas yang ditulis oleh Rendra: “Catatan Elementer Bagi Calon Aktor”. Artikel itulah yang kemudian memotivasi saya untuk menjadi penulis. Di Jakarta, tepatnya di Gereja Santo Fransiskus Asisi Menteng Dalam, saya aktif di Paduan Suara dan di Mudika, seraya mendirikan teater tentu saja. Disitulah awal saya menulis sajak di Lembar Pendakian Sastra dan Budaya Suara Karya. Juga resensi pementasan drama Arifin C. Noer, Ikra Negara, Putu Wijaya, dan lain-lain, termasuk tari Dongeng Dari Dirah dan Samgita Sardono W. Kusumo. Sayang kliping tulisan itu hilang karena saya titipkan ke Eka Budianta. Tahun 76, saya mulai berkarir di bidang jurnalistik pada Harian 45 milik Adam Malik. Kantor Redaksinya di Kramat VII, bekas kantor redaksi Harian Kami. Saya tentu saja berkenalan dengan jurnalis senior Harian Kami yang sudah banyak makan asam garam. Di harian itulah saya mengenal proses pembuatan berita hingga mengantar naskah ke percetakan Inaltu di Pulo Gadung.

Saya bekerja hampir 24 jam, karena selesai cetak koran saya harus keliling mengantarkan korang ke perusahaan-perusahan pemasang iklan. Hanya setahun koran tersebut tutup. Lalu oleh Pak Thomas Suyatno saya dipindah ke Majalah Perbankan, mengurus bagian iklan. Jadilah saya banyak mengenal direktur bank yang ada di Jakarta, karena saya sering menemani wartawan senior melakukan wawancara. Majalah Perbankan juga berumur pendek, maka saya ditarik oleh Romo Subroto Wijoyo menjadei redaktur di Majalah Hidup Katolik yang berkantor di Gedung Karya Sosial di Keuskupan Agung Jakarta. Waktu itu Majalah Hidup baru terdiri dari 8 halaman dan dicetak hitam putih di atas kertas koran. Oleh Romo Subroto Wijoyo saya diminta merancang perubahan layout dengan cover berwarna dan isi majalah terdiri dari 32 halaman. Dari tiras yang hanya 12.000 menjadi 34.000. Di Majalah Hidup saya memegang rubrik daerah dan opini. Kala itu Romo J. B. Mangoenwijaya sedang mulai menulis dengan gaya M. A. W. Brower. Banyak naskah Romo Mangun yang saya tolak. Di Majalah Hidup saya sering ditugasi mewawancarai tokoh-tokoh nasional. Yang mengesankan cukup banyak, diantaranya Kardinal Justinus Darmojuwono yang tinggal di Keuskupan Agung Semarang. Saya harus menunggu 2 hari untuk bgisa mewawancarai beliau. Ada Dirjen Bimas Katolik pak Djoko Moelyono yang kemanapun memberikan ceramah selalu membawa rokok Kansas satu pak.

George/rekan di Korea

Rokok yang baru dinyalakan akan segera dimatikan njika beliau harus menjawab pertanyaan wartawan. Lalu menyalakan yang baru lagi, begitu seterusnya. Saya juga mewawancarai Bung Tomo di rumah beliau Jalan Besuki dekat Taman Suropati. Ia tokoh yang konsisten dan sangat ramah. Sayangnya, fotografer saya, Willy Priatmanto, entah kenapa tidak ada satu fotopun yang jadi. Terpaksa be3soknya harus mengulang lagi. Ivana Lee pebulu tangkis yang cantik itu juga narasumber saya. Waktu itu dia sedang menjalani katekumen untuk masuk katolik di Susteran Blok P Kebayoran, saya sering memboncengkannya untuk mengantar pulang. Ketika saya menjadi mahasiswa irama khusus di STF Driyarkara, saya sekelas dengan Afrisal Malna dan novelis Maria A. Sarjono. Pun setiap pulang kuliah jam 21.00, saya selalu mengantarkan Mbak Maria pulang. Setelah 4 tahun di Majalah Hidup (1978-1982), saya ditarik di Penerbit P. T. Gramedia. Meski mengurusi penerbitan, naluri jurnalistik saya tak pernah surut. Saya selalu menonton acara-acara di TIM dan melahirkan banyak resensi pementasan drama yang dimuat di Lembar Pendakian Sastra dan Budaya Suara Karya, Koran Prioritas, dan Majalah Sastra Horizson. Tahun 1987, selepas saya keluar dari Penerbit Gramedia dan kemudian bergabung di P. T. Kalbe Farma, saya diminta Tabloid Bola untuk mengadakan seminar tenaga dalam selama satu tahun. Di saat itulah saya mulai intensif berjalan bersama Rendra.

Saya bersama mas Zaenal Effendi, fotografer Tabloid Bola lalu sering ke Tugu di Padepokan Perguruan Silat Bangau Putih untuk mewawancarai Suhu Subur Raharja yang kemudian dimuat secara bersambung di Tabloid Bola, tentu saja saya sambil belajar silat Bangau Putih. Tahun 1988 saya mulai beralih karir sebagai training specialist di bidang Manajemen Mutu. Jadilah saya berkeliling Indonesia untuk mengajar di perusahaan swasta dan BUMN untuk bidang manajemen mutu. Ketika saya menjadi salah satu pembicara pada seminar manajemen mutu bersama G. Sumaryono CEO IBM, saya diwawancarai oleh seorang wartawati Mingguan Editor. Tahun 1993, kami bertemu kembali di Pertemuan Teater Nasional di Taman Budaya Solo. Tahun 1996 kami bertemu lagi dan berikrar untuk membangun keluarga, bahkan sudah sempat meminta Gus Dur untuk menjadi wali nikah kami. Sayang cita-cita itu kandas di jalan. Selama menjadi training speciatist saya tetap menulis diantaranya di Majalah Manajemen yang diterbitkan oleh LPPM, Media Indonesia, Majalah Hai, dan Majalah Sastra Horizon. Saya terus mengikuti pementasa Teater Koma dan Bengkel Teater Rendra. Sehingga pada tahun 1990 saya dilantik Rendra menjadi Guru Tetap pada Kampus Bengkel Teater Rendra sampai tahun 1996. Selama itu saya terlibat pementasan Bengkel Teater diantaranya Hamlet dan Kisah Perjuangan Suku Naga. Mengajar berbagai ilmu untuk 20 anggota Bengkel Teater selama 6 tahun dari Jumat malam hingga Minggu sore bukan hal yang gampang. Saya lalu sering terlibat berbincang dengan Rendra pada malam yang telah larut hingga menjelang subuh. Saya mengajukan cuti hingga sekarang. Tahun-tahun bekerja di Wiratman & Associates (Consultan Engineering), saya tetap menulis, tentu saja di bidang manajemen. Hingga datangnya krismon saya kemudian berputar haluan menjadi pegiat rekonsiliasi konflik bersama mas Darmanto Jatman di Semarang. Masa-masa itu saya banyak memberikan pelatihan capacity building untuk NGO di Jawa Tengah khususnya. Tahun 2000 saya diundang Erros Djarot untuk memegang desk budaya di Tabloid Detak. Tapi karena sesuatu hal, Detak terpaksa ditutup dan bermetamorfosa menjadi detak.com.

Sambil menulis opini setiap hari saya juga merangkap menjadi Ketua Litbang Kebudayaan Poros Indonesia yang kelak menjadi PNBK (Partai Nasional Banteng Kemerdekaan). Tahun 2004-2007 saya diminta mendampingi Mas Slamet Rahardjo di Teater Populer. Selama 4 tahun tinggal di Teater Populer saya terlibat beberapa produksi teater diantaranya Antigone dan Jolalilo. Untuk sinetron di TVRI berjudul PATAS (Parodi Transportasi), dan film Sejarah 110 tahun BRI, juga film Biografi Nyoohansiang. Di Sanggar Teater Populer saya masih menghasilkan satu tulisan yang dimuat di Kompas cetak. Tetapi ada ratusan tulisan lain yang belum saya publikasikan. Tahun 2008 saya diajak Mas Mulyana W Kusumah (alm) untuk bergabung di Harian Merdeka sebagai Redaktur Senior yang bertanggung-jawab untuk rubrik opini dan rubrik yang saya beri nama Evolusi Sebatang Jerami dimana setiap hari saya mengisinya dengan tulisan budaya dengan hanya 1500 karakter. Ketika kepala saya kepanasan, secara tidak sengaja saya menemukan tulisan Tan Malaka. Saya bgagi menjadi 25 bagian dan saya muat setiap hari. Pas yang ke-25, bagian terakhir, Harian Merdeka ditutup. Kini, sebagai pegiat rekonsiliasi budaya, saya tetap menulis. Tahun 2012 saya diminta menjadi juri Kehati Award oleh pak Emil Salim. Perjalanan saya ke Bali dan Jogya lebih membumikan karya tulis saya yang telah saya mulai sejak di Harian Merdeka sebagai Jurnalisme Sinematografis, yaitu jurnalisme yang menggunakan kaidah-kaidah dan proses pembuatan film. Sambil membina sanggar seni di Jawa Tengah, saya tetap menulis. Tetapi saya lebih suka menulis di Kompasiana karena saya bisa mengetahui berapa banyak orang yang membaca tulisan saya. Jakarta, 25 Maret 2015/22.19

George Soedarsono Esthu, jurnalis, budayawan dan pengajar Teater/Seni Budaya, jebolan STF Driyarkara

George Soedarsono Esthu
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...