11 December 2019

Film "Nonggup" Segera Tayang di Papua

Konfrontasi - Film "Nonggup" yang mengisahkan tentang kampung pedalaman Papua segera ditayangkan di provinsi tersebut, dijadwalkan pada 31 Oktober 2014.

"Film ini mengangkat kisah keluarga Papua di daerah terpencil yakni di Ogeneten yang penduduknya mayoritas sebagai petani karet, namun kehidupan ekonominya sangat menyedihkan," kata Direktur Eksekutif Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) Carolina Tupamahu di Makassar, Kamis (30/10).

Dia mengatakan, pemutaran film itu bertujuan memromosikan kegiatan inspiratif/praktik cerdas yang dilakukan masyarakat guna membawa perubahan ekonomi di daerah yang masih tertinggal.

Menurut dia, film tersebut menceritakan kehidupan petani karet yang hidup dengan terlilit utang tengkulak. Mereka hanya bisa pasrah menyerahkan hasil sadapan karet pada tengkulak dan pedagang yang membeli dengan harga rendah.

Di sini juga digambarkan tengkulak membeli hasil sadapan karet dengan sistem barter, walaupun pada dasarnya masyarakat lebih membutuhkan uang tunai, guna membayar uang sekolah anak-anak mereka.

Seiring berjalannya waktu, Kepala Distrik Iniyandit (kecamatan) saat itu masih berstatus sebagai wakil kepala distrik Yan Karowa berinisiatif membantu masyarakatnya degan mendirikan koperasi.

Ide yang terlintas dipikirannya itu kemudian diumumkan kepada warganya. Selaku Yan Korowa, dia lalu membicarakan hal ini dengan orang yang menurutnya baik yakni Riswanto dan Frans Upessy, fasilitator Wahana Visi Indonesia untuk membantu mewujudkan pembangunan koperasi.

Tak butuh waktu lama untuk mewujukan ide Yan, koperasi itu pun terbangun dan diberi nama "Nonggup".

Menurut Yan, saat berinisiatif membangun koperasi, dia hanya membutuhkan orang yang baik, bukan yang cerdas atau berpendidikan tinggi.

Alasannya, orang baik baginya akan mampu melayani masyarakat dengan tulus, tanpa mengedepankan kepentingan pribadinya.

Mengenai alasan mendirikan koperasi itu, lanjut dia, karena mencermati kehidupan warga Ogeneten yang kaya dengan sumber daya alam, namun tetap terpuruk dari segi ekonomi sejak zaman penjajahan Belanda hingga saat ini.

Koperasi Nonggup berdiri sejak 2009 dengan modal awal Rp8 juta oleh 27 anggota. Pada 2014 anggota koperasi sudah mencapai 458 orang di antaranya banyak warga kota dan kini telah memperoleh keuntungan sebesar Rp1,6 miliar.(akl/ar)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...