21 November 2018

Enigma Tuhan dan Impresi-impresi Jeluk

 Oleh Narudin*)

Enigma Tuhan dan Impresi-impresi Jeluk

“If words come out of the heart, they will enter the heart, but if they come from the tongue, they will not pass beyond the ears.” —Al-Suhrawardi, Essential Sufism

Membaca puisi-puisi (hanya 20 puisi) Hilda Winar di dalam buku puisi Panyalai (2015) seakan-akan menyimpulkan kembali benang-benang kesan yang putus. Kata “putus” ialah bagian dari sifat dasar manusia yang “selalu” khawatir soal “apa yang belum datang”, “selalu” cemas soal “apa yang telah lewat”, “selalu” takut soal “apa yang sedang dilakukan”. Trikotomi kegelisahan ini bertumpu pada pijakan yang rapuh baik secara imanen maupun secara transenden—tak benar-benar lepas dari segala nostalgia yang memar, ingatan yang lebam, perasaan yang remuk. Meskipun begitu, kata Suhrawardi (1155–1191), seorang filsuf Iran, yang mengajarkan kosmologi emanasi yang menukik dan kompleks, tak perlu risau karena kata yang berasal dari hati akan masuk ke hati, tapi kata yang berasal dari lidah bahkan akan terpental dari telinga! Kecenderungan-kecenderungan puisi-puisi Hilda yang bias dalam trikotomi kegelisahannya ini terkadang bernada enigma Tuhan (divinity), kadang kala bermelodi impresi-impresi jeluk.

Enigma Tuhan Dalam bahasa Yunani “peripatētikos” berarti “to walk about” atau “berjalan-jalan”, mengindikasikan peristiwa diskusi Aristoteles saat mengajarkan filsafatnya di Lyceum, Atena kuno (Furley, 2003: 1141). Demikianlah halnya apa yang terjadi dengan Hilda Winar saat ia menggubah puisi-puisi yang menyangkut soal ketuhanan, atau lebih tepat, kesan personal ia terhadap Tuhan secara teologis yang seakan-akan “berjalan-jalan”, seolah-olah ingin hendak mencapai suatu tujuan tertentu secara teleologis. Kita simak puisi enigma Ilahiah berikut:

HUJAN

Sabar, Tuhan sedang sibuk mengajarkan tanda koma pada hujan yang bersikeras mengajariku arti gigil

Kata sabar pada baris ke-1, seakan-akan pesan imperatif (perintah) kepada kita (orang yang dianggap tengah membaca puisi Hilda). Lalu dilanjutkan pada baris ke-2 yang menegaskan bahwa Tuhan sedang sibuk mengajarkan tanda koma pada hujan agar dihayati dengan sebaik-baiknya. Oleh sebab itu, harus sabar, tak perlu tergesa-gesa berlalu atau berbuat suatu hal lain. Bentuk perilaku submisif (penyerahan diri) ini merupakan struktur wajar suara spiritual Hilda. Bahkan pada baris ke-4 masih diimbuhi kata kerja (verba) “mengajar” secara repetitif (terulang dua kali) untuk menegaskan bahwa “tanda koma” di sana bermakna “utama”, yakni “arti gigil”. Perhatikan objek “tanda koma” setelah verba transitif “mengajarkan”. Lagi pula, bagaimana secara semantik (maknawi) kita dapat memahami Tuhan yang sedang mengajarkan tanda koma pada hujan? Jenis puisi atmosferis seperti ini pernah digagas oleh Goenawan Mohamad, Abdul Hadi WM, dan Sapardi Djoko Damono tempo dulu, sekitar tahun 60-an sampai tahun 80-an. Jenis puisi suasana demikian—walaupun tak dibahas—maknanya telah bersemayam di dalam wilayah tertentu batin kita. Semacam ke-aduh-an yang mesra… Kita perhatikan puisi berikutnya, masih soal enigma Tuhan, namun kali ini dengan sentuhan antropomorfis—ada sangkut paut secara sosiologis bahkan sosio-politis.

BUAT MAS J

Tuhan Di dasar cangkir kopiku Seekor lalat mati Aku tak membunuhnya Sungguh Tuhan Di negeri ini segala hal mahal Hanya lalat ini yang gratis Tapi kau tahu Aku bukan pemakan bangkai Meskipun dia bukan saudaraku Sungguh

Candiroto, 11 April 2015

Kalimat Aku tak membunuhnya/ Sungguh/ Tuhan/ merupakan kecemasan retoris Hilda. Dan tiba-tiba muncul kalimat yang tak terduga secara sosio-politis ini Di negeri ini segala hal mahal/ Hanya lalat ini yang gratis/. Nada bermajas ironis ini tentu saja menyindir “kita” secara implisit (tak langsung) mengenai betapa “mahalnya harga negeri ini”. Kemudian apa yang terjadi dengan baris-baris berikut ini:

Tapi kau tahu Aku bukan pemakan bangkai Meskipun dia bukan saudaraku

Di sini telah terjadi nada bermajas sarkastis (bersifat mengejek). Dalam keyakinan agama Hilda, agama Islam, di sana terdapat pesan orang yang menggunjing saudaranya ibarat memakan bangkai saudaranya sendiri. Derajat pemahaman etika yang bukan bangunan etika de-ontologi ala Kant (Bertens, 1997)ini yang bersifat kausal (sebab-akibat) merupakan sensitivitas sosial Hilda sebagai makhluk sosial (homo socius).

Impresi-impresi Jeluk “Jeluk” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2015) ialah adjektiva (kata sifat) dalam (tt mangkuk, pinggan, piring, dsb); sedangkan “jeluk penetrasi”, istilah ilmu Fisika: ketebalan lapisan yg dipanaskan pd sebuah penghantar akibat imbasan arus bolak balik padanya dan diukur dr permukaan penghantar itu. Pendek kata, sejeluk (sedalam) apa kesan-kesan (impresi-impresi) Hilda Winar dalam buku puisi Panyalai (2015) ini. Mari kita tonton bersama-sama puisi berikut. Benar, dan mari kita saksikan “lapisan yang dipanaskannya”!

DI PEMAKAMAN IBU

kata pertama yang diajarkan ibu: hati hati, nak sikap pertama yang diajarkan ayah: kepercayaan bahwa ketika ayah melemparku tinggi ke atas, ayah akan menyambutku ketika jatuh, percaya bahwa aku aman dan terlindung di langkah pertamaku menghadapi dunia ketika ibu tiada, aku masih mendengar suara ibu: hati hati, nak tenang ma, aku selalu ada di doamu. aku percaya itu

Cilangkap, 28 Mei 2007

Dari judul puisi di atas, dari awal kita telah diundang menuju kuburan atau pemakaman! Di pemakaman ibu. Secara “simpatik”—bukan “empatik” yang bersifat pseudo-kinestetik—kita pun turut merasakan bahwa kita sedang berada di pemakaman ibu. Tuturan feminin dalam relasi ibu-anak “Hati-hati, Nak!” lebih bersifat teoretis (storge), sedangkan ujaran maskulin lebih kepada sifat praktis, yakni “kepercayaan”. Kemudian secara nostalgik, kenangan hidup Hilda muncul secara dramatis sebagai kesan-kesan jeluk. di langkah pertamaku menghadapi dunia ketika ibu tiada, aku masih mendengar suara ibu: hati hati, nak

Dan dua baris di atas serta-merta dijawab—sebagai pola ungkapan resiprokal: tenang ma, aku selalu ada di doamu. aku percaya itu. Secara mengejutkan, “fungsi anak yang berdoa” tak disinggung, melainkan si aku lirik/penyair fokus kepada ekspektasi doa ibunya. Pertanyaan sederhana yang segera diajukan ialah: Apa benar ibu di alam kubur masih terus mendoakan kita?

Sebagai puisi penutup yang mewakili pembicaraan kita kali ini, mari kita perhatikan puisi berikut.

GOSIP gosip menyebar dengan baik bahkan sampai di ruang amat pribadi di jumlah tali kutang berikut bentuk renda yg membungkus isinya di celana dalam berikut lendir yang menempel di lapisan dalamnya pagi ini, mari kita cuci semua lalu kita jemur di ruang amat terbuka agar jelas semua agar semua bisa melihat adakah sisa pertempuran tadi malam di sana

Cilangkap, 30 Januari 2015

Puisi di atas tergolong puisi ironis-humoris. Ironis karena ada sindiran-sindiran tak langsung secara sosiologis. Sementara itu, dikatakan humoris karena penyebutan simbol libido Freudian (2012) seperti “tali kutang”, “isi kutang” (?), dan “lendir”… dan ternyata: pagi ini, mari kita cuci semua lalu kita jemur di ruang amat terbuka agar jelas semua agar semua bisa melihat adakah sisa pertempuran tadi malam di sana

Persoalannya, kalau masalah “cuci-mencuci”, semua orang “ahli mencuci”! tapi, permasalahan “menjemur di ruang amat terbuka” hanya beberapa orang “yang memiliki keterampilan” serupa itu. Agar apa? Agar terang semua! Agar semua bisa lihat! Yakni, adakah sisa pertempuran tadi malam di sana. Seramai apa pertempuran itu? Adakah kesan-kesan yang dalam ketika harus menyebut siapa yang kalah dan siapa yang menang dalam pertempuran mahadahsyat itu… Akan tetapi, di setiap pertempuran, pasti ada cahaya, entah cahaya dari api, entah cahaya dari “diri”—tanpa perlu repot-repot mengkhayalkan pengalaman mistik Platonis. Pokok kedirian ini tetap harus menyangkut sosok Hilda Winar, yang berdarah Minangkabau, yang punya sikap diri yang “keras meski tak kasar”, yang mengaku ber-suku “Panyalai” yang berarti “yang menyalakan cahaya”. Semoga cahaya redup Hilda tak padam baik secara tiba-tiba maupun disengaja (tapi tak boleh tak disengaja)!

*** Kalijati, 25 Juli 2015

Daftar Pustaka Bertens, K.. 1997. Etika. Jakarta: Gramedia. Corbin, Henry. 1998. "The Voyage and the Messenger: Iran and Philosophy". North Atlantic Books. Furley, David. 2003. "Peripatetic School", dalam Hornblower, Simon; Spawforth, Antony, The Oxford Classical Dictionary (edisi 3). Oxford University Press. Mohammad A., Syuropati, dan Agustina Soebachman. 2012. 7 Teori Sastra Kontemporer & 17 Tokohnya: Sebuah Perkenalan. Yogyakarta: In AzNa Books.

_______________________________________________________________________-

 *) Narudin Penyair, Prosais, Penerjemah, dan Kritikus Sastra. Narudin was born on October 15, 1982, in Subang. He graduated from Indonesia University of Education (UPI Bandung). He once taught in some universities and international schools. He was the West Java Language Representative (Duta Bahasa Jawa Barat) in 2007 and one of the Best West Java Language Representatives (Duta Bahasa Berprestasi Jawa Barat) in 2015 from Bandung Language Building (Balai Bahasa Bandung), West Java. His literary works have been published in some magazines, newspapers, books, and many others. He writes all genres of the literary works both in Indonesian and in English, including his translations, from Indonesian into English and from English into Indonesian, such as Partita No. 3 (2013, selected stories by Cecep Syamsul Hari), Panyalai (2015, a poetry book) by Hilda Winar, and Truth without Fear (2015, a poetry book) by Sastri Bakry. His new book is a literary criticism, Analisis Modern Buku Puisi dan Puisi (Sarbi, 2015), one of his best books. He is often invited to discuss many books and speak in some literary seminars.

 

 

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...