12 December 2017

Dilakonkan Perempuan Perempuan Chairil, Empat Cinta Dalam Empat Babak

KONFRONTASI -  Terinspirasi dari buku berjudul Chairil karya Hasan Aspahani, pertunjukan Perempuan Perempuan Chairil mengalir dengan alur penuh kejutan. Dari buku itulah, Happy Salma selaku produser dari Titimangsa Foundation dan sutradara Agus Noor menemukan bentuk dan fokus penceritaan Chairil Anwar.

Berlangsung di Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki Jalan Cikini, Jakarta, pertunjukan Perempuan Perempuan Chairil yang didukung Bakti Budaya Djarum Foundation itu digelar dua hari yakni 11 dan 12 November 2017.

"Dengan pendekatan biografi puitis ini, penulisan lakon jadi memiliki fleksibilitas tafsir karena tak terlalu terbebani untuk menginformasikan sebanyak mungkin fakta-fakta seputar Chairil. Fakta dirujuk untuk mempertegas adegan, percakapan, dan konflik. Pergulatan batin dan kegelisahan Chairil menjadi bisa dieksplorasi menjadi sebuah drama," tutur Agus.

 

Penulisan naskah Perempuan Perempuan Chairil digarap Agus Noor dan Hasan Aspahani serta diperkuat kehadiran penyair Ahda Imran. Mereka menjadi tiga serangkai yang memberi fondasi kuat bagi lahirnya pertunjukan Perempuan Perempuan Chairil.

Produser Happy Salma mengungkapkan, Chairil Anwar melalui karya-karyanya, merupakan cermin sejarah untuk memaknai apa arti kemerdekaan manusia, juga kemerdekaan sebuah bangsa.

Setidaknya, kata Happy Salma, esensi itulah yang mendorong dia untuk mewujudkan mimpi menampilkan perjalanan hidup Chairil Anwar.

 

 

 

Menurut Happy Salma, lewat puisi-puisinya, Chairil Anwar telah mengambil peran yang tak kecil demi memberi tenaga dan makna pada semangat revolusi dan kemerdekaan negeri ini.

"Chairil Anwar mati muda tetapi karya-karyanya melampaui zamannya. Ia seakan tak pernah mati. Semangatnya selalu ada dan terus hidup bersama kita," ujar Happy Salma.

Pertunjukan teater Perempuan Perempuan Chairil menampilkan salah satu aktor terbaik Indonesia yaitu Reza Rahadian sebagai Chairil Anwar. Sementara itu, para pemeran perempuan yang pernah ada dalam hidup Chairil adalah Marsha Timothy sebagai Ida, Chelsea Islan sebagai Sri Ajati, Tara Basro sebagai Sumirat, dan Sita Nursanti sebagai Hapsah Wiriaredja.

Ada pula dua pemain pendukung yaitu Sri Qadariatin sebagai perempuan malam dan Indrasitas sebagai pelukis Affandi.

 

Selama hampir 120 menit, lakon Perempuan Perempuan Chairil tersaji dalam empat babak yang menggambarkan hubungan Chairil dengan Ida, Sri, Mirat dan Hapsah.

Setiap sosok memiliki karakteristik yang membuat Chairil jatuh cinta. Ida adalah mahasiswi, penulis hebat, pemikir kritis, dan bisa menyaingi intelektualisme Chairil Anwar ketika mereka berdebat.

Sri Ajati, juga seorang mahasiswi, bergerak di tengah pemuda-pemuda hebat pada zamannya. Dia ikut bermain teater, jadi model lukisan, dan gadis ningrat yang tak membeda-bedakan kawan.

Sumirat, juga seorang yang terdidik yang lincah. Dia tahu benar bagaimana menikmati keadaan, mengagumi keluasan pandangan Chairil Anwar, menerima dan membalas cinta Chairil Anwar dengan sama besarnya. Walaupun akhirnya cinta itu kandas.

Petualangan cinta Chairil Anwar disadarkan kehadiran Hapsah yang menganggap Chairil Anwar lelaki biasa. Perempuan yang memberi anak pada Chairil Anwar ini berani mengambil risiko mencintai karena tahu lelaki itu akhirnya berubah, meskipun terlambat.

Mereka adalah empat perempuan yang tak sama, dengan empat cerita yang berbeda. Tanpa mengecilkan arti dan peran perempuan lain, tapi lewat cerita empat perempuan ini penonton Perempuan Perempuan Chairil bisa mengenal sosok sang pujangga juga dunia yang hendak ia jadikan, serta zaman yang menghidupi dan dihidupinya.(Jft/PR)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...