12 December 2019

De Atjeh-oorlog : Djihad en Koloniaal Machtsvertoon – 85

                                                           Episode 85
                                                       Fragmen Kedua
                           Perempuan-Perempuan Berani  Di Medan Pertempuran  Aceh

 


                Genangan darah dalam pertempuran seru di Samalanga membuat bulukuduk bergidik. Hampir 100 prajurit-prajurit kaphe-kaphe Belanda di bawah Jenderal Van Der Heijden tewas di bawah parit-parit terjal yang terus dibom dan ditembali pejuang-epejuang Aceh di bawah serangan Pocit Meuligo.Perempuan berani yang sangat ditakuti kaphe-kaphe Belanda dan selain dia, ada juga yang ditakuti mereka, yaitu Teungku Cik Bugis. Dan Pocut Meuligo? Ini perempuan yang memiliki sikap sama dengan Teungku Cut Fakinah. Perempuan pewaris tahta Kerajaan Samalanga. Otak cerdik dan kotor kaphe-kaphe Belanda mencoba mengambil hati Cut Meuligo untuk menaklukkan Smalanga yang berada di bawah kekuasaannya. Di usia masih muda belia, Cut Meuligo sudah meraih prestasi sebagai pewaris tahta kerajaan Samalanga yang sukses, disegani dan memiliki kekuatan perang yang kuat.
               Saat itu mereka menyerang Samalanga dari Cot Meurak dengan 900 pasukan bersenjata lengkap. Pertempuran seru berlangsung dengan sengitnya. Pocut Meuligo mulanya hanya menjadi komando perang yang mengerahkan semua kekuatan prajurit-prajurit mujahdin dan mujahidah Tanah Perlawanan, dari Samalanga. Dentuman-dentuman meriam antara kekuatan itu bersahut-sahutan. Sekali melayang di udara, bom dinamit yang jatuh meledak di tanah dan yang kena hanya kerbau, kambing dan ternak-ternak serta pohon-pohon yang berada di pihak mujahidin dan mujahidah Aceh. Balas lagi bom ‘lila’ pasukan Pocut Meuligo, bom “lila” itu meledak di tengah tentara yang dipimpin Van der Heijden, itulah pertama kali korban berjatuhan di pihak kaphe-kaphe Belanda. Tembakan dari jauh berbalas tembakan. Van DereHeijden hanya dikenai serpihan bom yang tak seberapa melukainya. Hanya lecet-lecet di tangan , di bahu dan wajahnya sedikit. 11 tentara kpahe-kaphe Belanda pun tewas berkalang api dari bom “lila” yang meledak di tengah-tengah mereka.
                   Tetapi lama kelamaan perang semakin seru. Pasukan Tanah Perlawanan maju dan berseru “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Walillahilhamd!”. Pauskan kaphe-kaphe Belanda di bawah pimpinan Van Der Hejiden pun maju pula sambil meneriakkan Hore-horee Nederland, dan lagu Wihelmus, lagu kebangsaan kephe-kaphe Belanda yang mereka bangga-banggakan selalu, walaupun pekerjaan mereka tak lebih dari menindas, merampok dan menjarah kekayaan bangsa-bangsa lain di dunia.
Wilhelmus van Nassouwe
ben ik, van Duitsen bloed,
den vaderland getrouwe
blijf ik tot in den doet (=dood).
Een Prinse van Oranje
ben ik, vrij onverveerd,
den Koning van Hispanje
heb ik altijd geëerd.
(Wilhelmus dari Nassau,
Adalah aku, yang berdarah Belanda.
Setia pada tanah air,
sampai aku mati.
Sebagai Pangeran Oranye
bebas dan tak gentar.
Raja Spanyol
selalu aku hormati.)
In Godes vrees te leven
heb ik altijd betracht,
daarom ben ik verdreven,
om land, om luid gebracht.
Maar God zal mij regeren
als een goed instrument,
dat ik zal wederkeren
in mijnen regiment.
(Hidup dengan takut dalam Tuhan
Selalu aku usahakan.
Karena hal inilah aku diusir
Dari tanah dan rakyatku.
Tetapi Tuhan akan menuntunku
seperti hamba yang baik.
Sehingga aku mungkin bisa kembali
ke tanahku.)
                     Begitulah hentakan-hentakan sepatu lars dari pasukan kaphe-kaphe Belanda itu hanya mampu membawakan dua kuplet dari 15 kuplet (bait) dari lagu kebangsaan kaphe-kaphe yang mereka banggakan itu. Selesai menyanyikan kuplet terakhir, kedua pasukan bertemu di lembah Cot Meurak. Kedua pasukan saling baku hantam dengan pedang, dengan rencong, dengan kepalan tinju, dengan kelewang. Samalanga kini, tepatnya di lembah Cot Meurak bergetar dan api pertempuran meledak dengan hebat. Api iblis dari dada para tentara kaphe-kaphe Belanda terus membara. Dan api suci dari tentara mujahidin-mujahidin Tanah Perlawanan dengan semangat Sayidina Ali (sahabat dan keponakan nabi Muhammad Saw yang tenang dan sangat berani) menghadapi pasukan yang kesetanan itu dengan tenang. Tapi penuh gelora perlawanan yang tiada duanya dalam sejarah pertempuran Aceh. Letnan Jenderal  Aj. Richello, seorang bawahan Van der Heijden terlihat sedang bdertempur dengan ulama besar Haji Ahmad. Kesudahannya kepala Letnan Jenderal Aj. Richello terbelah dua dipancung  Haji Ahmad. Inilah semangat Sayydina Ali (sahabat dan keponakan Rasulullah) yang begitu hebat turjun  dan menitis dalam peperangan dan pertempuran di Cot Meurak, Samalanga. Dan semangat Sayyidina Ali itu menurun ke ulama besar Haji Ahmad.
                   Saat dipancung kepalanya, Letnan Jenderal Aj Richello berteriak keras dan tak lama ia tumbang, tubuhnya meliuk-liuk di tengah keramaian pasukan yang saling bertempur dan saling menjemput maut yang menyeramkan bagi kaphe-kaphe Belanda. Namun tak lama setelah Letnan Jenderal Aj Richello berhasil ditewaskan Haji Ahmad, beliau pun tiba-tiba tertunduk jatuh ke tanah. Pakaian jubahnya yang putih dan serbannya merah digenangi darah di tanah. Seorang kaphe-kaphe Belanda telah menembaknya dari jarak dekat, dan tak lama Haji Ahmad, ulama besar yang disegani dan ditakuti kaphe-kaphe belanda itu pun syahid dan surge Allah terbuka lembar menerima kedatangan haji Ahmad. Pekik “Allahu Akbar” dari sebagian prajurit Tanah Perlawanan bergema di seluruh medan perang itu. Seseorang dari pasukan mujahidin berteriak-teriak :”Ali! Ali!, pulanglah dengan pahal syahid dan genangan darahmu yang mengkilat seperti cahaya!” Perang terus berkecamuk. Mayat-mayat pasukan kaphe-kaphe Belanda semakin banyak saja bertumbangan dan tergeletak di lembah Cot Meurak.   Van Der Hejiden tiba-tiba tersungkur, matanya tertembak dan buta sebelah. Luka-luka berat mengenai sekujur tubuhnya. Tapi ia tak menyerah, ia terus berlari, dari matanya mengucur darah dan anak buahnya berusaha keras menyelamatkan diri, melarikan komandan lapangan yang dimuliakan kaphe-kaphe Belanda itu. Prajurit-prajurit Tanah Perlawanan mengejar mereka, namun sebagan pasukan kaphe-kaphe Belanda membalas dengan tembakan membabi buta. Dan selamatlahjenderal Van der Heijden dilarikan ke Kutaraja.

                    Tubuh-tubuh coklat , putih dan hitam itu berserakan di bawah lembah-lembah terjal di Cot Meurak, para tentara kaphe-kaphe Belanda seperti menemui hantu yang besar sekali di Cot Meurak. Sebagian besar tentara-tentara kaphe itu melihat teman-temannya jangkang tergeletak tak bernyawa dan air di perigi di lembah itu merah pekat, menyebabkan tentara Van der Hejden tunggang-langgang melarikan diri.

                    Penembakan itu berlangsung selama 45 menit non-stop. Masing-masing prajurit dari Aceh dan aggressor kaphe-kaphe Belanda itu  bertekad membunuh sebanyak mungkin musuhnya.  Aksi perang yang sungguh hebat itu baru terhenti ketika pasukan kaphe-kaphe Belanda menemukan jenderal besar mereka Van der Heijden tersungkur layu di tanah dengan luka-luka berat di sekujur tubuhnya.  
Inilah wilayah yang sangar dan sangat angker bagi kaphe – kaphe Belanda. Namun nafsu kaphe-kaphe Belanda yang begitu mencuat ke kerongkongan mereka menyerang daerah ini disebabkan ingin menguasai Samalanga. Samalanga adalah  wilayah ini sangat strategis, kaya akan hasil alam dan sangat maju dalam perdagangan.
                   Pada tahun 1703 Masehi, seorang ulama Mekah datang ke daerah ini dan mendirikan Dayah (Pesantren) yang mamju dan ulamanya, Syeikh Abdussalam Bawarith Asyi sangat disegani oleh mayarakat (umat) karena ketinggian ilmu dan kekuatan batinnya. Untuk yang terakhir ini, (kekuatan batin) adalah disebabkan karena Syeikh Abdussalam Bawarith Asyi adalah seorang ulama Tarekat Sattariyah yang rajin dan membina murid-muridnya dengan gemblengan “muahadah, mujahadah, muraqabah, dan muhasabah yang keras.    Pesantren  Syeikh Abdussalam Bawarith Asyi tak jauh dari lembah Cot Meurak, medan pertempuran dengan kaphe-kaphe Belanda yang legendaries itu.
Dan siapa pula Pocut Meuligo? Dia adalah satu dari beberapa singa perempuan Aceh yang tak dapat ditawar oleh kekuatan colonial kaphe-kaphe Belanda. Karena kegigihan dan sikapnya yang tak mau menjadi komprador (penjaul Negara, alias kaki tangan)busuk kaphe-kaphe Belanda menyebabkan Samalanga memiliki sejarah bertahan paling lama selama Tanah Perlawanan menggelar medan jihad mempertahankan negeri yang harum mewangi dari jamahan kaphe-kaphe Belanda yang berhati kotor, rakus dan penuh kebusukan duniawi yang tak tak bisa ditolerir oleh para ulama Aceh, para pemimpin Aceh terutama oleh Pocut Meuligo.(Bersambung)

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...