Catatan Perjalanan ke Rusia: Dari Dubai ke Moskwa (bag 9)

KONFRONTASI-Sudah dua hari ini angin bersertakan butiran salju turun di Rostov, mungkin juga sama dengan kota-kota lain di Rusia. Suhu udara semakin merosot bahkan hari ini saja sudah minus 17’C dengan Feels Like mencapat minus 22’C. Butiran salju yang turun dari 2 hari lalu membentuk seperti tumpukan pasir putih yang bergelombang indah sekali. Terlihat seperti pada lukisan alam, dengan angin sebagai kuasnya menambah keindahan goresan-goresan di permukaan tumpukan salju itu.
Aktivitas hari ini berjalanan seperti biasa namun dengan keadaa seperti ini waktu berasa melambat. Bagaimana tidak angin yang bertiup kencang membuat pejalan kaki memasaang kuda-kuda agar tidak terdorong oleh angin, ketika angin melambat baru lah mereka berjalan. Mobil-mobil di jalan pun begitu, tidak bisa memacu kecepatan seperti biasa karena salju pun sudah menutupi jalan beraspal. Mobil-mobil mewah dengan kualitas ban yang baik mungkin tidak masalah dengan kondisi seperti ini, tapi mobil-mobil tua seperi volga atau mungkin mobil-mobil yang tidak memiliki kualitas ban yang baik akan sangat sulit untuk melawit tumpukan salju sehingga akan membuat antiran panjang di jalan.

Ini pengalam pertama saya melihat cuaca kaya gini, Awesome! Pagi ini saya pergi ke kampus dengan jarak antara asrama ke kampus kuliah bahasa sekitar 1 KM, kondisi yang tak seperti biasa ini membuat jarak menjadi 3 KM. Kenapa seperti itu? Angin kencang dan tumpukan salju yang akan memperlambat dan mempersulit jalan sehingga seharusnya dengan kondisi biasa jalan kaki hanya menghabiskan waktu 15 menit, tapi dengan kondisi seperti ini saya harus menghabiskan waktu 30 menit mungkin ini juga dapat membakar 500 kalori dalam tubuh saya.

Hari ini saya ada kelas jam 10:15 waktu Rostov. Saya bangun jam 9 pagi lalu pergi untuk mandi. Walau diluar dingin dan kebanyakan orang-orang Rusia atau mungkin manusia yang ada di kota ini tidak terpikir untuk mandi karena memang tidak penting atau mereka malas, tapi bagi saya mandi adalah wajib hukumnya ya wajib untuk mandi 2 hari sekali. Sudah 2 hari ini saya pun menjadi warga lokal yang malas untuk mandi, jadi saya putuskan untuk mandi hari ini. Setelah mandi saya pun keringkan badan dan berpakaian. Seperti biasa saya sarapan dengan makanan sisa selaman yang saya panaskan terlebih dahulu. Makaroni menjadi andalan makanan untuk saya saat ini, karena memang simpel dan saya pun tidak punya kemampuan untuk memasak yang lain, jadi pikirku yang terpenting itu kenyang rasa adalah nomor 2 bahakan ke 3. Perut kenyang bandan wangi saya siap untuk menerjang badai salju ini demi pendidikan, masa saya kalah dengan nenek tua yang pergi kepasar untuk membeli bahan-bahan dapur dengan cuaca seperti ini. Stelan pakaian hari ini harus disesuaikan dengan cuaca, jadi saya putuskan untuk menggunakan long jhone atas setelah itu kaos tangan panjang, Jaket pertama lalu ditambah jaket bulu angsa dan bagian bawah hanya longjon dan celana Jeans. Tak lupa sarung tangan 2 lapis dan Kupluk untuk penutup kepala. Badan sayapun menjadi 2 kali lipat besarnya. Semua sudah siap, saya ambil tas lalu pergi keluar kamar tak lupa saya membaca Basmalah “ Bismillah Hirrahman Nirrahim”.

Saya berjalan diatas tumpukan salju yang sudah menggunung, kira-kira kakiku terbenam hingga sebetis. Saya hanya melihan kebawah memperhatikan langkahku, salah-salah saya akan terperosok. Semua bagian tubuhku ini sudah tertutup rapat, sehingga rasa dingin pun tidak saya rasakan. Tapi, setutup-tutupnya semua bagian tubuh ada satu bagian yang tidak bisa saya tutup, yaitu muka. Saya tidak tahu dengan apa saya menutup muka ini karena saya tidak memiliki kupluk yang seperti ninja, jadi muka ini dicumbu habis-habisan oleh angin dingin. Saya tidak bisa menuliskan bagaimana rasanya muka ini terkena angin dingin itu. Aneh, bukan dingin atau terasa segar muka saya tapi muka berasa panas bercampur perih, mungkin bisa dicontohkan taro muka anda diatas tumpukan es yang membeku di dalam frizer kulkas rumah anda. Saya terus berjalan sekali-kali saya berjalan mundur karena memang angin yang datang dari depan membuat muka perih bahkan akan mendorong tubuh kebelakang, jadi memang harus dibutuhkan taktik yang jitu jika tidak tubuh akan terdorong kebelakang bahkan bisa terjatuh. Namun jika angin yang datang dari arah belakang itu sangat membatu, sehingga jalan kita menjadi ringan, namun tidak semudah itu juga, dengan kondisi jalan yang licin saya harus berhati-hati juga karena bisa terpeleset dan akhirnya terjatuh juga. Serba salah memang dengan kondisi seperti ini.

Selangkah demi selangkah akhirnya tibalah saya di tempat kuliah bahasa yang berjarak 1 km. Saya bersyukur tidak terjadi apa-apa, dengan napas yang masih ngos-ngosan karena memang menghabiskan tenaga juga berjalan melewati salju yang sudah selutut dan angin dingin yang sangat kencang seperti ini. Tapi setidaknya saya bisa bernapas untuk 5 jam kedepan karena waktu kuliah dari jam 10:15 sampai 14:45.  

Nurbayu Nandes Manan, menulis dari Moskwa

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA