10 December 2019

Bachtiar Siagian Dalam Film Indonesia: Sutradara Terkemuka yang Dilupakan

Memoar Bachtiar Siagian 1923-2002 yng di kirimkan kepada kami oleh Indra Siagian, anak Bachtiar Siagian, membentangkan kisah hidup sutradara besar itu dihadapan kami. Lewat halaman demi halaman kami mengikuti jejak hidupnya. Juga perasaan dan pikiran-pikirannya tentang Republik Indonesia.

Sebelum dikenal sebagai sutradara film, Bachtiar Siagian telah mengakrabi teater dan kesenian sejak kecil. Dia pernah mejadi anggota orkes gambus memainkan harmonium dan akordeon saat remaja. Mereka memainkan lagu-lagu Melayu dan sesekali lagu-lagu Mesir modern. di orkes itu ia juga menjadi penari japin.

Orangtua Bachtiar memberi pengaruh besar membentuk minat dan bakatnya Dari ibunya ia belajar memainkan harmonium. Dari ayahnya yang sering diundang ke pesta-pesta membacakan syair sambil bernyanyi, Bachtiar akrab dengan syair.

Di kampungnya di dalam area perkebunan tembakau dia pun sering menonton pertunjukan tradisionla, seperti wayang orang, wayang kulit, wayang golek, ketoprak, ludruk, pedati, randai, ronggeng melayu dan opera batak Tilhang Gultom.

Bachtiar Siagian mengenal teater klasik atau opera Barat dan tonil modern didapat sang ayah. Ayahnya mengajak menonton Dean’s Opera dari Malaysia, Dardanella, tonil Miss Riboet dan Blauw Wit.

Dunia teater kemudian lekat dalam kehidupan Bachtiar. Dia mendirikan sebuah kelompok drama di Binjai bernama Kencana, pernah ikut pementasan keliling di Aceh dan Sumatera Timur, serta bergabung di kelompok teater temannya, Jhon Hutapea, di Tarutung.

Perkenalan Bachtiar dengan film terjadi pada masa pendudukan Jepang. Seorang Jepang yang sedang membuat film semi-dokumenter Tonari Gumi dengan film BW 16 mm, meminta Bachtiar ikut membantu. Tonari Gumi adalah sistem pemerintahan terbawah yang di bentuk Jepang untuk mengorganisirkan warga mendukung kebijakan politik dan ekonomi Jepang. Tonari Gumi ini kemudian diadopsi menjadi Rukun Tetangga (RT).

Di samping menyerap pelajaran singkat cara membuat film dari filmmaker Jepang, dia juga membaca naskah fil Art Pudovkib Book saat di Aceh ketika revolusi. Naskah itu di tulis dalam bahasa Cina. Seorang temannya etnis Cihna membantu Bachtiar memahami isinya.

Setelah penyerahan kedaulatan kepada pemerintah Republik Indonesia dan keluar dari tentara, Bachtiar mulai menulis skenario film berjudul Musim Badai. Namun, dia tak memiliki saluran untuk mewujudkannya menjadi sebuah film. Saleh Umar, temannya berteater dan berjuang yang saat itu menjadi anggota DPR, menganjurkannya pindah ke Jakarta.

Saleh Umar kemudian memperkenalkan Bachtiar Siagian dengan Adam Malik, saat itu pimpinan Kantor Berita Antara, yang berniat memproduksi film. PT Muara Film milik Adam Malik memproduksi film pertama Bachtiar Siagian, Kabut Desember, yang akarnya berasal dari Musim Badai.

Bachtiar yang masih asing dengan peralatan teknis film 35 mm bersuara dibantu temannya, Jaafar Wiryo, seorang sutradara. Film Kabut Desember menjadi pembuka jalan penyutradaraan Bachtiar Siagian. Dia kemudian menggarap Corak Dunia. Film-film selanjutnya adalah Melati Senja, Daerah Hilang dan Turang.

bachtiar siagian

Film Turang yang pemutaran perdananya di Istana Merdeka disaksikan Presiden Sukarno mengambil lokasi syuting di daerah Karo. Film ini meraih penghargaan Film Terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 1960 dan Bachtiar Siagian dinobatkan sebagai Sutradara Terbaik. Release copyright film ini pun dibeli oleh Uni Sovyet, RRC, Vietnam dan Korea.

Selama bergiat di film dan kesenian. Bachtiar Siagian tetap aktif berorganisasi. Tercatat dia adalah Ketua Lembaga Film Indonesia di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Dia juga anggota dan salah seorang pengurus Serikat Buruh Film dan seni drama (Sarbufis) yang  anggota kelompok ketoprak dan wayang orang. Aktivitas di organisasi seni ini besar dipengaruhi aktivitasnya selama masa revolusi 1945 dan pengalamannya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Melalui organisasi seni budaya, Bachtiar ikut mengorganisir aksi boikot film AS dan menggagas Festival Film Asia Afrika. Aktivitas ini kemudian oleh kelompok seniman film yang berseberangan dengannya mencap Bachtiar sebagai orang politik yang masuk fikm. Dan saat peristiwa G.30.S pecah, bachtiar ikut di tangkao karena aktivitasnya di Lekra yang erat dengan PKI. Padahal, Bachtiar Siagian bukan anggota PKI.

Bersama karya-karya seniman yang dituduh PKI, film-film karya Bachtiar termasuk Turang dan Piso Surit ikut diberangus. Dia sendiri mendekam di Pulau Baru dan dibebaskan tahun 1979.

Setalah dibebaskan, Bapak seniman Studio Oncor  milik Ray Sahetapy. Bapak juga bekerja sama dengan beberapa stuido film. Membuat skenario, tapi tanpa nama penulis atau memakai nama lain. Paling sering membuat film semi- dokumenter untuk kementerian dan BUMN,” sebut Indra Siagian melalui sambungan telepon.

Film-film Bachtiar Siagian yang diproduksi tanpa nama penulis cerita dan skenario adalah Intan Mendulang Cinta(1985), Tiga Dara Mencari Cinta (1986), dan Busana Dalam Mimpi (1987). (*)

MEMULANGKAN FILM-FILM BACHTIAR SIAGIAN

Tiga tahun terakhir Indra Siagian menelusuri jejak Bachtiar Siagian untuk mengumpulkan karya-karya sang ayah. Tak cuma film, tapi juga karya sastra seperti novel, cerita pendek, puisi, dan naskah-naskah drama. Sedikit buah dari penelusuran ini adalah Indra sudah mendigitalisasi 1 novel, 1 kumpulan cerpen, dan 1 kumpulan catatan Bachtiar Siagian selama pembuangan di Nusa Kambangan dan Pulau Buru.

Indra juga sudah mencari film-film Bachtiar sampai ke Vietnam. Dia menyebutkan, Sinematek Vietnam kemungkinan menyimpan copy film Bachtiar. Namun, Indra tak dapat mengakses ke sana mengingat akses ke Sinematek adalah hubungan Negara-Negara (Goverment to Goverment).

“Karenanya kami berharap pemerintah bersedia turun tangan mencari dan mengembalikan film-film Bachtiar Siagian ke Indonesia. Apalagi, Bachtiar Siagian adalah seorang pejuang kemerdekaan,” harap Indra.Beberapa data riset, sebut Indra, juga menyebutkan film Bachtiar tersimpan di Belanda.

Di antara film-film Bachtiar Siagian ada yang diekspor ke beberapa negara, sepertiRRC, Korea, Vietnam, Jerman, Uni Sovyet, dan Inggris. Indra berharap salinan film-film tersebut masih ada.

“Dari beberapa bulan lalu kami sudah menyampaikan ini ke pemerintah. Namun, karena Pilpres, sempat terhenti. Sekarang menunggu kabinet baru,” ujar Indra. (*)

PERANG GERILYA DI KARO DAN LAGU NIAS HUNAMBOU

Bachtiar Siagian adalah seorang pejuang kemerdekaan. Pengalaman berperang dia tuangkan ke dalam film Turang. Bachtiar pernah aktif bergerilya melawan Belanda di Tanah Karo.Di Pulau Nias, dia berperan dalam pembangunan Bandara Binaka.

Saat pemberontakan PRRI/Permesta tahun 1958, pesawat-pesawat terbang tak bertanda sering terbang dari arah Pulau Cocos (terletak di Samudera Hindia di sebelah barat Jawa) melewati Tapanuli. Pesawat-pesawat ini diduga menjatuhkan senjata untuk para pemberontak.

Lapangan terbang di Nias dimaksudkan untuk menghalau pesawat-pesawat tak bertanda itu. Bachtiar menjadi sukarelawan AURI dan diterbangkan ke Nias bersama seorang perwira AURI, Kapten Rosidi. Pembangunan lapangan terbang dilakukan dengan bantuan rakyat Nias yang sebagian besar anggota Barisan Tani. Mereka bekerja secara sukarela. Lapangan terbang itu diberi nama Hunambou yang diambil dari nama sebuah sungai di Desa Binaka. Kelak, lapangan terbang Hunambou menjadi Bandara Binaka.

Dalam pengabdian di Pulau Nias ini, Bachtiar Siagian menggubah sebuah lagu mars berjudul Hunambou yang liriknya menganjurkan kerja bakti demi kepentingan dan kemajuan Pulau Nias.

“Bapak juga ikut berjuang di Pertempuran Medan Area. Sebagai seorang pejuang kemerdekaan Bapak mendapatkan Tanda Anggota Legiun Veteran Republik Indonesia,” jelas Indra Siagian. (*)

SUTRADARA YANG MALANG

Sutradara Indonesia dan seniman Lekra yang paling misterius. Karyanya sebagai sutradara film barangkali tinggal kepingan ingatan beberapa orang Indonesia sezamannya yang masih hdiup. Pasca-peristiwa G30S, tentara membumihanguskan karya-karyanya, bersama film-film bikinan seniman Lekra lainnya seperti Bachtiar Effendy dan Kotot Sukardi. Bachtiar sendiri dipenjara tanpa diadili di Pulau Buru. Ia baru dibebaskan di akhir 1970-an, setelah nasib para tapol Buru mendapat perhatian dari dunia internasional.

MENYELAMATKAN TENGKU AMIR HAMZAH

Malam, 3 Maret 1946, Bachtiar Siagian memimpin pertunjukan drama panggung di Bioskop Deli, Binjai, berjudul Darah Rakyat. Pengunjung pertunjukkan itu sebagian besar adalah Laskar Rakyat Medan Area. Ada Laskar Pesindo, Napindo, Hisbullah, Barisan Merah, Barisan Harimau Liar, dan TKR/TNI.

Sebelum pertunjukkan beredar desas-desus yang memerintahkan Laskar Rakyat siap sedia. Bachtiar yang waktu itu Sekretaris Umum Persatuan Perjuangan (Volksfront) KabupatenLangkat menemui seorang temannyadi bagian penyelidikan yang ikut menonton Darah Rakyat. Temannya memastikan ada instruksi rahasia dariMarkas Agung di Medan bahwa pukul 24.00 malam itu semua daerah kerajaan di Sumatera Timur tidakdiakui lagi kekuasaannya oleh rakyat. Bachtiar meragukan instruksi itu.

Namun, keraguan Bachtiar terbantahkan. Pecahlah peristiwa 3 Maret malam itu. Sekitar jam 4 pagi, 4 Maret, Laskar Rakyat menyerbu Istana Sultan dan menurunkan Bendera kerajaan yang berwarna kuning dan menggantikannya dengan Sang Dwi Warna.

Bachtiar yang mengenal Tengku Amir Hamzah dan mengagumi syair-syairnya melarikan Amir Hamzah. Dia menitipkan Amir Hamzah di sebuah markas laskar di Kebun Lada.Bachtiar menginstruksikan kepala markas agar siapapun tidak diperbolehkan memeriksa atau mengambil Amir Hamzah.

Malang, terjadi berbagai peristiwa diluar dugaan. Kekuatan barisan Laskar Rakyat pecah. Perpecahan ini ikut berdampak pada nasib Amir Hamzah. Tanggal 20 Maret 1946, pagi hari, Amir Hamzah dibunuh bersama 26 orang tahanan lain. Mereka dimakamkan di sebuah kuburan massal di Kwala Begumit, Langkat.Makam itu ditemukan tahun 1948. November 1949 jenazah Amir Hamzah dimakamkan di Masjid Azizi di Tanjung Pura, Langkat. (*)

“Aku tak bisa menciptakan karya yang bercorak “seni untuk seni.” Itulah sebabnya dulu Sdr. Usmar Ismail, tokoh perfilman kita, pernah menuduh aku “orang politik yang menyusup ke dunia film.” Dengan kata lain, Usmar Ismail menganggap aku bukan seniman film

Aku memang tak keberatan dengan tuduhan itu karena aku memang tak pernah merasa bangga sebagai seniman film. Aku juga tak keberatan dikategorikan sebagai orang politik jika hal itu disebabkan oleh film-film karyaku yang melukiskan sikap patriotik para pejuang dan rakyat jelata yang membela kemerdekaan. Atau filmku yang menggambarkan penderitaan rakyat kecil yang diperlakukan tidak adil dan tidak manusiawi. Mungkin hati nuraniku banyak dipengaruhi oleh pengalamanku yang dilahirkan di sebuah perkebunan dan dibesarkan di lingkungan kuli-kuli kontrak yang diperlakukan.”

Bachtiar Siagian Dan Misteri Realisme Sosialis Dalam Film Indonesia

5 November 2013

bachtiar-siagian-basuki-resobowo-rapat-dewan-juri-ffaa-iii-mabes-ganefo-1964-300x187

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF

Bachtiar Siagian adalah sutradara Indonesia dan seniman Lekra yang paling misterius. Karyanya sebagai sutradara film barangkali tinggal kepingan ingatan beberapa orang Indonesia sezamannya yang masih hdiup. Pasca-peristiwa G30S,  tentara membumihanguskan karya-karyanya, bersama film-film bikinan seniman Lekra lainnya seperti Bachtiar Effendy dan Kotot Sukardi. Bachtiar sendiri dipenjara tanpa diadili di Pulau Buru. Ia baru dibebaskan di akhir 1970-an, setelah nasib para tapol Buru mendapat perhatian dari dunia internasional.

Selepas Orde Baru, karya-karya pegiat Lekra, kita tahu, kembali hadir di khalayak ramai. Buku-buku yang dulu dilarang, kini leluasa diterbitkan ulang dan menjadi bagian dari boom singkat literatur sayap kiri pasca-1998. Roman-roman Pram dibaca tanpa harus sembunyi-sembunyi. Lagu-lagu seperti Genjer-Genjer atau Oentoek Paduka Jang Mulia Presiden Soekarno-nya Lilis Suryani sempat mampir di telinga anak muda. Namun Bachtiar tak seberuntung rekan-rekannya. Yang dimusnahkan tentara bukanlah DVD, VCD, VHS, Betamax, atau media portabel lain yang bisa diakses secara rumahan, karena memang belum ada di jaman itu—Anda pun dijamin takkan bisa menemukan film-filmnya di torrent. Dengan menghancurkan lusinan gulungan seluloid—yang tak gampang digandakan layaknya cerpen yang ditulis di atas kertas atau lagu yang direkam di pita magnetik—Angkatan Darat membabat habis warisan Kiri dalam sinema Indonesia. Kabarnya, Sinematek masih menyimpan satu atau dua judul, dengan kondisi yang tentu saja memprihatinkan.

Dampaknya luas. Kita tak pernah tahu seperti apa tradisi realisme sosialis dalam film Indonesia, sebagaimana dalam sastra atau lukisan. Ketika tahun lalu orang ramai membicarakan restorasi film Lewat Djam Malam karya Usmar Ismail, yang dalam sejarah sinema Indonesia sering disebut-sebut sebagai rival Bachtiar, tak satupun bandingannya bisa dimunculkan. Jauh-jauh hari, Krishna Sen, sarjana kajian media asal Australia, mengulas Bachtiar dalam salah satu bab disertasinya tentang film Indonesia (diterbitkan  tahun 1994 dengan judul Indonesia Cinema: Framing the New Order).  Sen membandingkan kedua maestro, lantas membela posisi Bachtiar. Namun, analisis Sen mengandung keterbatasan, jika bukan persoalan yang sangat mendasar. Pasalnya,  film-film Usmar Ismail dibandingkan dengan materi  pra-produksi film-film Bachtiar (skenario) serta sumber sekunder lainnya seperti ulasan di media cetak. Ketika dipresentasikan di Jakarta tahun 1980an, Misbach Yusa Biran, karib Usmar sekaligus pendiri Sinematek Indonesia yang dulu berseberangan dengan Bachtiar, menilai disertasi Sen tak memenuhi standar akademis.[1]  Klaim yang berlebihan memang; seolah-olah kelemahan 1 bab membatalkan keseluruhan isi  disertasi. Namun dalam ketiadaan sumber-sumber utama, Misbach—di luar afiliasinya di masa lalu—juga tak sepenuhnya keliru.

Ada baiknya kita menilik kembali apa yang dikatakan Sen dalam karya ilmiahnya. Realisme Usmar adalah realisme psikologis.[2] Konflik-konflik protagonisnya lebih bersifat batiniah. Iskandar, tokoh utama Lewat Djam Malam misalnya, adalah seorang veteran dengan pandangan dunia yang pesimis dan fatalis, yang nasibnya berakhir dalam kematian. Ia merasa bersalah telah mengeksekusi keluarga yang dicap pengkhianat di jaman Revolusi Fisik. Ia juga kecewa lantaran menemukan kawan-kawan seperjuangannya kini kaya dari korupsi, termasuk si kolonel yang memerintahkan eksekusi tersebut. Ia pun tak betah dengan lingkaran pergaulan calon istrinya yang sibuk dengan dansa-dansi dan pulang pagi (untuk mengakali jam malam, tentunya). Penyesalan semakin bertambah setelah Iskandar menembak mati sang kolonel, hingga akhirnya kalut tak tentu arah dan tertabrak mobil patroli tentara (yang lagi-lagi teman-temannya sendiri!). Iskandar, bekas mahasiswa teknik yang terpanggil untuk memanggul senjata; kekecewaan pasca-revolusi;  korupsi dan kemewahan duniawi—kritik sosial Lewat Djam Malam nampaknya lebih pas dengan aspirasi kelas menengah Indonesia jaman kita yang gencar mengecam korupsi dan—belakangan setelah mapan—punya impian hidup asketis-spiritual ketimur-timuran.

Berkebalikan dengan Usmar, realisme Bachtiar lebih optimis dan tidak berasyik-masyuk dengan urusan kedirian. Orang boleh mengira-ngira apakah ‘optimis’ di sini berarti mewakili Realisme Sosialis a la Zhdanov yang sering jadi bulan-bulanan intelektual kanan sekaligus kiri anti-Stalinis. Mungkin iya, mungkin tidak. Toh, kebenarannya sulit dibuktikan (kalau pun iya, ada masalah?) Namun setidaknya dari skenario, veteran Johan, protagonis dalam Corak Dunia, film Bachtiar yang dirilis tahun 1955 (setahun setelah Lewat Djam Malam), tak tenggelam dalam fatalisme Iskandar.[1] Johan sempat terjun ke dunia bandit begitu perang usai, namun segera ‘kembali ke jalan yang lurus’ setelah bertemu seorang perempuan tua, lalu jatuh hati pada putrinya yang buta. Dengan bantuan rekan seperjuangan Johan yang kini bekerja sebagai dokter bedah mata,  sang gadis  kembali melihat dunia. Apa lacur, ia bergidik menyaksikan wajah Johan yang penuh bekas luka. Johan pun segera menarik diri dan merenung. Tapi dasarnya tak punya urat galau, perenungan Johan berujung pada kesimpulan progresif-revolusioner: luka di wajahnya diakibatkan oleh perang, yang jika ditarik lebih jauh lagi adalah produk imperialisme. Dasarnya pula bukan anak priyayi, Johan tidak pergi ke klinik bedah plastik, melainkan mengorganisir kawan-kawannya sesama veteran dalam gerakan pasifis—dan akhirul kalam, mengikuti formula film-film romantis, bersatu kembali dengan sang nona. Maka, jika bagi Usmar Revolusi Fisik berakhir di jalan buntu; bagi Bachtiar, ia sekadar  Revolusi Permanen yang baru saja dimulai.

Jumlah film yang dihasilkan orang Lekra terbilang sedikit, jika dibandingkan dengan produksi di ranah lainnya seperti sastra atau sandiwara panggung. Kiprah Lekra dalam film lebih diingat lantaran keterlibatannya dalam Papfias (Panitia Aksi Pemboikotan Film Imperialis Amerika), di mana Bachtiar aktif, guna merespon Masalah Abadi Perfilman Indonesia, yakni bioskop nasional yang didominasi film impor Hollywood beserta konsekuensinya: penganaktirian film lokal yang sampai sekarang tetap jadi tontonan kelas kambing di jaringan bioskop 21. Ironisnya, langkah ini dituduh lawan-lawan Papfias sebagai siasat memasukkan film-film dari negara komunis—sebelas-duabelas dengan  aksi mogok buruh belakangan ini yang dituding telah disetir ‘antek asing’ oleh Apindo.

Beberapa skenario film Bachtiar, termasuk Corak Dunia, masih tersimpan di perpustakaan Sinematek.  kondisi Mengingat kondisi Sinematek yang kapiran, lebih baik Anda cepat-cepat saja ke sana sebelum dimakan rayap atau ditilep intel Kodim. Barangkali Anda tertarik mengkopinya, atau bahkan mengembangkannya jadi film baru. Jika Anda berkesempatan melancong ke Vietnam, Korea Utara, RRC, Rusia, atau negeri-negeri bekas Blok Timur lainnya yang dulu turut serta dalam Festival Film Asia-Afrika (1964), kunjungilah arsip film mereka. Siapa tahu Anda beruntung menemukan Corak Dunia, Turang, Daerah Hilang, dan banyak lagi yang lainnya.

Sekian pengantar untuk penggalan catatan harian Bachtiar Siagian. Kami berterimakasih kepada keluarga beliau yang telah mengizinkan kami memuat manuskrip ini. Selama membaca!

Rujukan

[1] Joss Wibisono,  2012, ‘Sejarah Musik Bedjat’ , dapat diakses di http://gatholotjo.wordpress.com/2011/10/14/sedjarah-musik-bedjat-oleh-joss-wibisono/

2  Krishna Sen, 1994, Indonesian Cinema: Framing the New Order, London: Zed Books, hal. 41-6.

________
 Koleksi Oey Hay Djoen/ISSI
Bachtiar Siagian dan Basuki Resobowo dalam rapat Dewan Juri Festival Film Asia Afrika 1964 di gedung Ganefo. Foto: Koleksi Oey Hay Djoen/ISSI

 

CATATAN MENGENAI HUBUNGANKU DENGAN TEATER*

Oleh Bachtiar Siagian

 

Sejak masih kecil, aku gemar pada kesenian, terutama seni musik, sastra dan teater. Kegemaran itu mungkin karena pengaruh dari kedua orang tuaku. Ibuku, biarpun ‘anak kebun’ dan buta huruf, gemar bermain alat musik harmonium. Entah dari siapa dia belajar memainkan alat itu aku tak tahu. yang jelas dia mahir memainkan lagu-lagu melayu, biarpun kakek dan nenekku orang Sunda. Setiap waktu senggang dia selalu bermain musik dan aku senang mendengarkannya.

Karena kami memiliki alat musik harmonium itu, akhirnya akupun bisa memainkannya. Ketika telah menjadi remaja, aku ikut orkes gambus dan memainkan harmonium. Setelah ada akordeon, aku juga memainkan alat itu. Selain bermain harmonium atau akordeon kadangkala aku juga ikut menari ‘japin’, tarian gambus. Orkes mini sering diundang bermain di pesta-pesta perkawinan. Biasanya duduk di tikar atau permadani, sejak sore hingga larut malam. Selain memainkan lagu-lagu melayu, sesekali juga memainkan lagu-lagu Mesir modern.

Selain ibuku gemar bermain harmonium seorang diri, ayahku gemar membaca syair-syair sambil bernyanyi. Pada waktu itu memang ada pembaca-pembaca syair dengan menyanyi sering diundang ke pesta-pesta untuk membaca syair-syair kisah lama. seperti kisah Puteri Hijau atau kisah-kisah Timur Tengah dan Arab.

Karena sering mendengar ayahku membaca syair-syair seperti itu, akupun akhirnya gemar membawa syair-syair tersebut yang umumnya ditulis dengan tulisan Melayu (huruf Arab).

Selain gemar membaca syair, ayahku juga gemar menonton teater klasik a la opera barat maupun tonil modern. Aku pernah menonton Dean’s Opera dari Malaya, pernah menonton Dardanella, tonil Miss Tibu atau rombongan Blauw Wit yang acapkali mengkritik keadaan sosial ketika itu. Misalnya kisah ‘Diantara Dua Peti Mati’, yang sering dilarang.

Selain teater modern atau opera maupun tonil di kota, di perkebunan tanah Deli sering ada pertunjukkan ‘Bangsawan Kebun’, suatu bentuk opera kuno dengan cerita raja dan jin iprit.

Rombongan ‘Bangsawan Kebun’ itu biasanya mengadakan pertunjukan di berbagai perkebunan dan berpindah-pindah. Pemain-pemainnya tentu pemain kelas bawah yang sudah exit (keluar) dari rombongan kota.

Di samping gemar menonton ‘Bangsawan Kebun’, ataupun opera dari Malaya maupun Dardanela, aku juga sering menonton ‘Ketoprak Dor’, dengan gaya opera barat dan musiknya bukan pakai gamelan tetapi pakai harmonium dan tambur tektek dor, birama wals.

Di kotaku juga ada opera Cina, yang disebut Wayang Cina yang biasanya datang dari Singapore.

Setelah aku di Medan, aku acapkali melihat teater modern dengan lakon-lakon terkenal, seperti kar ya Ibsen, Multatuli dll. Teater itu diorganisasi oleh Belanda-belanda perkebunan yang tergabung dalam ‘Medansche Tooneel Vereeniging (persatuan toneel Media) dan selalu mengadakan pementasan di sebuah sositen yang bernama Witte Sociteit. Tentu saja yang menonton adalah orang-orang Belanda.

Di samping orang-orang Belanda, kaum intelektual Indonesia dan para wartawan, juga punya kegiatan di bidang teater. Di Medan ada beberapa perkumpulan teater, antara lain Surya Negara ‘Cahaya Andalas’ dll. Dan sering mengadakan pementasan di Medan.

Di antara repertoar yang pernah dipentaskan, ialah Gadis Modern, karya Adlin Afandy. Pernah juga lakon Lintah Darat yang sering dipertunjukkan Dardanela, dipentaskan di pentas amatir di Medan.

Aku sendiri mendirikan sebuah kelompok drama yang bernama Kencana di Binjai dan punya pengalaman pahit ketika mengadakan pertunjukan di Belawan, beberapa bulan setelah Jepang menduduki negri kita.

Menulis Drama

Sebelum Jepang menduduki negri ini, aku sudah mulai menulis drama. Lakon terdiri dari 4 babak itu kuberi judul ‘Dr. Darman’. Melukiskan tokoh seorang nasionalis. Ketika itu aku aktif memimpin sebuah organisasi pemuda, Surya Wirawan dan menjadi anggota Parindra cabang Binjei. Ketua Parindra ketika itu pak Rustam, kemudian diganti sdr. Ali Hadibroto. Parindra cabang Binjai itu merupakan lanjutan dari Boedi Oetomo, yang sudah berdiri di Binjei beberapa tahun setelah berdirinya Budi Utomo di Jawa.

Menjelang pecahnya perang Dunia II, kelompok dramaku sempat mengadakan pementasan di gedung bioskop Deli Binjai. Para pelakunya ketika itu terdiri dari pemuda-pemuda Binjai beserta beberapa pelajar Taman Siswa dan anggota Kepanduan Bangsa Indonesia.

Setelah pecah Perang Dunia II, aku menulis drama berjudul ‘Angin Berkisar’, temanya mengungkapkan harga diri kebangsaan dan konflik antara seorang suami berbangsa Indonesia dan istrinya seorang Peranakan Belanda.

Pengalaman Pahit di Teater.

Ketika Jepang menduduki negri ini, semua partai dan organisasi pemuda dan kepanduan dibubarkan Jepang. Ketika itu aku dengan beberapa pemuda-pemudi, diantaranya Dahlan Lubis, Sorim Kemisem, Husin Suleiman. Sponsor dananya adalah istri sdr. Sormin, kak Maimunah.

Kami mengadakan pertunjukan pertama di kota pelabuhan Belawan, di sebuah gedung bioskop. Kami mendapat izin pertunjukan dari pihak Kepolisian.

Penonton cukup banyak dan seluruh kursi gedung bioskop sudah terisi. Tepat jam 20.00 pertunjukan dimulai. Aku menjadi pemain utama dan sekaligus sutradaranya. Ketika babak pertama selesai, penonton menyambut dengan tepuk tangan meriah. Tetapi ketika babak kedua berlangsung, terjadilah sesuatu yang luar biasa. Beberapa orang Kenpeitai Jepang naik panggung dan membubarkan pertunjukan.

Aku dan sdr. Dahlan dibawa ke kantor Kempeitai Belawan. Di situ aku dipukuli, bukan saja oleh orang Kempeitai Jepang tetapi juga oleh seorang India yang menjadi pembantu Kempeitai itu. Barangkali orang India itu termasuk anggota tentara India yang pro Jepang, dari Malaya.

Setelah disiksa beberapa jam, lewat tengah malam aku dan Dahlan dibawa ke Medan dengan sebuah sedan Chevrolet. Kami dimasukkan di ruang bagasi (tempat ban serep) yang ada dibagian belakang setang itu dan pintunya ditutup. Aku yang diborgol dan hampir tak dapat bernapas, tak sadarkan diri. Aku baru sadar setelah berada di atas rumput basah, dilapangan kantor HVA, jalan Babura Medan yang dijadikan kantor Kempeitai. Aku dan temanku dimasukkan ke sebuah kerangkeng besi, bekas kerangkeng sirkus Harmston yang sudah bubar. Biasanya dalam kerangkeng itulah dipertunukan permainan dengan hewan-hewan buas. Kerangkeng itulah yang dipasang ditengah lapangan rumput, di belakang kantor HVA Medan.

Kerangkeng itu tak beratap dan jika siang dibakar terik matahari dan malam dibasahi embun atau hujan. Aku dan teman serta seorang Belanda, berasal dari salah satu perkebunan dengan Tebing tinggi, seorang India, berada di kerangkeng itu. Makan hanya diberikan sehari sekali, berupa bubur. Minum juga hanya diberi sekali ketika makan.

Di situ aku diperiksa, disiksa. Di dalam kerangkeng tak memakai baju, hanya bercelana pendek. Setiap malam diperiksa dan dipukuli. Aku dituduh mengadakan propaganda Indonesia Merdeka dan anti Jepang.

Selain diperiksa dan disiksa sebagai tertuduh, aku dan tahanan lain, kira-kira 3 orang lagi, diharuskan juga menonton! orang-orang yang sedang diperiksa dan dituduh. Sekali pernah aku diharuskan melihat seorang gadis Cina, berumur lebih kurang 25 tahun, diperiksa. Gadis itu telanjang bulat dan si pemeriksa memgang cerutu yang berapi. Acapkali pemeriksa itu menusuk cerutu berapi itu ke kemaluan si gadis yang tentu saja menjerit-jerit. Aku tak tahu mengapa gadis Cina itu disiksa, tetapi kemudian setelah aku keluar kudengar gadis itu ditangkap karena dirumahnya terdapat radio dan dia dituduh menjadi anggota Liga Anti Fasis.

Setelah lebih kurang dua minggu berada di dalam kerangkeng besi di tengah lapangan rumput kantor HVA belakang, masuk lagi seorang tahanan lain, seorang Belanda perkebunan dari daerah Asahan. Dia ditangkap karena memiliki radio penerima. Setelah beberapa malam di kerangkeng itu, pada suatu malam, dengan berbisik-bisik Belanda itu meminta kesediaanku untuk menyampaikan cincin kawinnya kepada istrinya, seorang wanita Indonesia di daerah Tebing Tinggi. Setelah menyerahkan cincin itu, pagi subuh dia dibawa dan tak pernah lagi kembali. Tentunya telah dipancung.

Setelah lebih kurang sebulan di kerangkeng itu, pada suatu pagi aku di panggil ke kantor dan diberi secangkir kopi manis. Setelah memakai baju, aku diangkut ke kantor Kempetai pusat di dekat Hotel De Boer Medan, bekas kantor Deli Maatschapaj. Di situ aku bertemu dengan bung Jacob Siregar, yang ketika itu membantu Kapten Inouse, Kepala Kempeitai yang terkenal itu.

Setelah diintimidasi dengan pedang samurai, aku dibolehkan pulang setelah meneken surat perjanjian bahwa aku tidak akan aktif lagi dalam gerakan politik.

Setelah itu aku kembali ke rumah pak Ranu, mertuaku, yang juga seorang nasionalis anggota Parindra. Istrinya, putri pungutnya, Kemisem-lah yang menjadi primadona pementasanku di Binjai dan Belawan.

Selama di Binjai, dengan bantuan sdr. Ali Hadibroto yang ketika itu memimpin kperasi konsumsi yang merupakan alat penyalur makanan yang didistribusi oleh Jepang.

Aku membuka warung kopi di simpang tiga jalan kampung Rambung Bangkatan. Selain kopi juga istriku membantu membikin goreng pisang dan ketan untuk dimual. Dia sendiri, selain aktif dalam kelompok dramaku, sebelum pembubaran partai-partai aktif memimpin Pandu Puteri KBI di Taman Siswa Binjai. Salah seorang guru Taman Siswa dan pemimpin KBI, adalah anggota Parindra. Salah seorang anak Uwakku, abang ayahku, kebetulan menjadi Taman Siswa, Jaafar Siagian.

Setelah beberapa bulan membuka warung kopi, pada suatu pagi datang Tahmad Jaafar, seorang pianis beserta temanku yang ikut aktif di kegiatan teater di Binjai, ….. Bung Ahmad Jaafar mengajak aku ikut bergabung dengan kelompok sandiwara mereka yang sedang populer ketika itu. Namanya…… Di kelompok itu ikut B. H. Hutajulu, seorang penyair dan tokoh pemuda, Hadely Hasibuan, seorang wartawan.

Aku dan istriku mengambil keputusan untuk bergabung dengan kelompok itu dan kami langsung berangkat ke Kutaraja (Banda Aceh), di mana kelompok itu sedang mengadakan pertunjukan.  Sejak itulah aku terjun ke dunia teater profesional.

Sebelum aku bergabung dengan rombongan sandiwara itu, istriku telah melahirkan anak kami yang pertama, yang kubero nama Razally, ketika bayi itu lebih kurang 3 bulanlah kami mulai ikut berkeliling. Aku menjadi aktor, istriku menjadi primadona. kami berkeliling dari kota ke kota di seluruh Aceh dan Sumatera Timur. Pertunjukan kami selalu sukses. hampir disetiap kota, akan menerima hadiah karangan bunga dari penonton.

Setelah berkeliling setahun, rombongan kami itu diperkuat dengan ikutnya pak Saleh Umar menjadi penulis beberapa lakon, antara lain yang terkenal ialah Corak Dunia (pernah kuadaptasi menjadi film), Menanti Hari Esok, Panggilan Kewajiban, bunga Anggrek, dll. Sdr. Hadley Hasibuan juga ikut aktif berkeliling.

Setelah Jepang menyerah kalah, rombongan kami aktif di bioskop Royal, Medan. Kadangkala mengadakan pertunjukan. Hamka, tokoh ulama dan pengarang terkenal, seiring juga datang menemui kami. Dia sendiri menulis repertoir.

M. Saleh Umar, yang tokoh pergerakan nasional dan pengurus Gerindo, tidak aktif lagi karena kegiatan organisasi perjuangan di Sumatera Timur, seperti Harimau Liar dll. Karya-karya yang menarik dan dia selalu memakai samaran Surapati.

Ketika kami sedang menganggur dan tinggal di bioskop royal itulah terjadi Peristiwa Jalan Bali, pertempuran antara para pejuang dengan tentara NICA.

Diantara anggota sandiwara kami yang ikut bertempur ketika itu adalah Yusman Kandow, yang kemudian menjadi Mayor A. D. Bakar Boopeng (Bopo yang kemudian aktif memimpin Laskar Rakyat di Medan Area.

Karena sandiwara KINSEI telah bubar, setelah proklamasi, aku dan beberapa pemuda membentuk rombongan baru di Binjai dan mengadakan pertunjukan di Tanjung pura, Binjai pangkalan Brandan.

Setelah itu kami berkeliling daerah Sumatera Timur dengan sponsor dari Dinas Penerangan Angkatan Darat, Resimen……

Setelah itu aku diajak oleh John Hutapea untuk memperkuat kelompoknya di Tarutung, Tapanuli. Aku berangkat dengan beberapa artis ke sana dan mengadakan pertunjukkan.

Setelah itu aku kembali ke Binjai dan bergabung kedalam Pesindo. Aku menulis naskah-naskah drama, antara lain Rosanti, San Yaru, Darah Rakyat.

Pada bulan…… th, 1946, aku menjadi sekertaris Persatuan Perjuangan Langkat. Pada suatu ketika kami mengadakan pertunjukan drama di bioskop Deli, Binjai. Lakonnya ‘Darah Rakyat’ karyaku. Yang menonton sebagian besar Laskar Rakyat dari Medan Area.

Setelah pertunjukan berhenti, sekitar jam 23.00, laskar yang menonton pertunjukanku menyerbu istana Kerajaan Langkat di binjai. Bendera Kerajaan diturunkan diganti Sang Dwi

Dari panggung ke film.

Di zaman pendudukan Jepang itu aku sempat dipilih oleh seorang Jepang untuk membantunya membikin sebuah film semi dokumenter mengenai Tonary Gumi dengan film BW 16 mm.

Itulah pertama kalinya aku berkenalan dengan media film. Dari orang Jepang itu pula aku sempat mendapat pelajaran singkat bagaimana membikin sebuah film.

Pelajaran film lain yang pernah kuperoleh, ialah membaca naskah Film Art (Pudovkin), ketika revolusi dan aku berada di Aceh. Naskah itu dalam bahasa Cina dan oleh seorang teman Cina aku dibantu untuk bisa memahami isinya.

Setelah penyerahan kedaulatan dan aku keluar dari tentara aku mulai menulis skenario berjudul Kabut Desember, bertolak dari pengetahuanku yang minim itu.

Pada suatu ketika bung Saleh Umar yang ketika itu menjadi anggota DPR, menghubungkan aku dengan Adam Malik, ketika itu memimpin Kantor Berita Antara. Di samping itu beliau juga aktif dibidang impor film dari Cina. Dengan bantuannya kami dirikan sebuah perusahaan film, Mutiara Film, dengan direktur Bariun AS. Dan Mutiara film-lah yang memproduksi filmku pertama Kabut Desember, dengan peran utama Sakti Alamsah dan Dahlia.

Sebagai pemain pembantu, Kamal Rangkuti dari Medan dan …… juga dari Medan. Sakti Alamsyah sendiri adalah wartawan dari Pikiran Rakyat Bandung.

Karena aku masih asing dengan peralatan teknis film 35 mm bersuara. Aku dibantu oleh seorang teman, sutradara dan pernah berpengalaman di Singapura, Jaafar Wiryo. Sebagai juru kamera adalah Chu To, dari Hongkong yang kebetulan bekerja pada Garuda Studio. Disampung dia ada juga cameraman lain, juga dari Hongkong. Juga seorang soundman dan ahli laboratorium Studio Garuda terletak di Kebayoran Lama.

Ada pengalaman khas ketika itu, yaitu adanya orang-orang film senior yang ‘melecehkan’ aku, karena aku belum pernah jadi sutradara dan tahu-tahu menyutradarai film dengan pemain kelas I seperti Dhalia.

Ketika shooting ada juga yang iseng mengintip caraku bekerja dan memang ‘lain’ dari cara mereka yang lama. Tema cerita Kabut Desember itu sendiri lain dari kisah-kisah film model lama.

Pengalamanku ketika membikin 16 mm dengan orang Jepang di Medan, teori-teori Pudovkin yang sempat kupelajari melalui naskah terjemahan yang sempat kupelajari ketika masih berada di Aceh sebagai prajurit. Kiranya banyak membantuku untuk menciptakan sesuatu film baru.

Sama dengan direksi PT. Muara Film, Barioen AS, aku tak sejalan sehingga akhirnya aku meninggalkan Muara Film setelah Kabut Desember selesai.

Karena prestasi yang kucapai, aku dapat kesempatan lagi untuk membikin film lain yang diproduksi oleh Garuda Film yang dipimpin oleh tuan Oei See Moh. Aku mengadaptasi karya Surapati (Saleh Umar) Corak Dunia dalam bentuk karya film dan merekrut Mieke Wijaya, seorang new comer sebagai pemain utama.

Film itu berhasil dengan sukses. Seorang tokoh pendidikan Pak Kasur, yang ketika itu bekerja di Badan Sensor Film sempat memuji-muji film tersebut sebagai film pendidikan yang bagus. Nyatanya memang film itu sempat di ekspor ke RRC, Vietnam dan Korea.

Melalui Corak Dunia itu pula, aku mulai mengorbitkan Soekarno M. Noor disamping Mieke Wijaya dan berhasil.

Setelah berhasil mencapai prestasi melalui dua film pertama itu, banyak kalangan film yang menawarkan aku kesempatan untuk memproduksi film.

Di antaranya, dari sdr Abu Bakar Abdy, dari Medan. Dengan modal gabungan Abubakar Abdy dan Garuda Film aku memproduksi film musik Melati Senja, dengan pemain utama Lies Noor dan aku sendiri, dibantu bing Slamet, Mimi Mariani. Selain sebagai aktor, aku bertindak sebagai sutradara.

Film itu ternyata sukses dan setelah itu aku membikin film Daerah Hilang yang bercorak kritik sosial mengenai tanah gusuran, dengan pemain utama Soekarno M. Noor dan new comer Ida Farida dari Medan. Ida Farida kemudian menjadi istri Abu Bakar Abdy.

Sayang, film Daerah Hilang kena sensor keras dan beberapa bagian harus di-‘gunting’ sehingga film itu jadi tak punya makna apa-apa. Ketika itu Ketua Badan Sensornya adalah Ny. Maria Ulfah Santoso.

Karena Daerah Hilang telah ‘dihancurkan’ oleh Badan Sensor, secara komersial dia mengalami kegagalan.

Setelah itu sdr. Abu Bakar Abdy mendirikan Rencong Film. Lalu aku membuat rencana sebuah film perjuangan yang berlangsung di Sumatera Utara, Tanah Karo, daerah di mana aku pernah aktif bergerilya melawan Belanda.

Dengan kerjasama antara Rencong Film dan Yayasan Gedong Pemuda yang diketuai oleh Kolonel Jamin Ginting, Panglima Bukit Barisan, kami memproduksi film Turang dengan pemain-pemain new comer, anak Medan, seperti  Nyzmah yang sempat meraih aktres terbaik dalam festival drama di Medan Zoubier Lelo, Hadisyam Tahax, Ahmadi Hamid, aktor yang sem…

Lokasi shooting-nya di daerah Karo. setelah selesai film itu ikut dalam festival Film Nasional, menantang karya-karya cinema yang sudah mapan, seperti Usmar Ismail dll. Ternyata Turang meraih hadiah pertama sebagai film terbaik.

Film itu kemudian dibeli release copyright-nya oleh beberapa negara sosialis, antara lain Uni Sovyet, RRC, Vietnam, Korea.

Oleh karena aku berhasil mencapai prestasi menciptakan film terbaik, banyak kalangan cineast lama, antaranya kelompok Usmar Ismail, Perfini, mulai membenciku dan melancarkan kampanye yang menuduh aku ‘orang politik yang masuk film’ dan karena aku anggota seksi film Lekra (Lembaga Film Indonesia, aku dituduh komunis, walau aku bukan anggota PKI.

Di samping menjadi anggota Lekra, aku memang menjadi anggota dan kemudian salah seorang pengurus Sarikat Buruh Film dan Seni Drama (Sarbufis), yang anggotanya terdiri dari para artis teater dan film, termasuk anggota-anggota kelompok ketoprak, wayang orang dll.

Di antara anggota dan pengurus Sarbufis, termasuk sdr. Tanu Honggonegoro alias Tan Sing Hwat, seorang sutradara film lama, Jaafar Wiryo, sutradara dll.

Mungkin itu juga menyebabkan kalangan orang-orang Perfini Usmar Ismail membenciku dan sering memfitnahku sebagai orang kiri.

Selain itu, Rencong Film sebagai badan usaha produksi film, ikut menjadi Persatuan Produser Film Indonesia (PPFI).

Oleh karena sdr. Abubakar Abdy yang sibuk sebagai orang bisnis tak sempat aktif, akulah yang ditunjuk menjadi wakil Rencong Film. Ada dua perusahaan film asal Medan yang menjadi anggota, yaitu Rencong Film dan Radial film yang dipimpin oleh Amir Yusuf.

Aku dan Amir Yusuf punya pandangan yang sama mengenai dunia film. Dia juga seorang pejuang.

Pada suatu konprensi PFFI memilih pengurus baru, Amir Yusuf terpilih sebagai ketua dan aku sebagai sekertaris jendralnya. Golongan Perfini tersingkir.

Kami segera menyusun suatu program perjuangan film Nasional, hasil suatu Musyawarah Film Nasional yang di’boikot’ oleh kelompok Usmar, tetapi juga bersaing dalam produksi, ikut ambil bagian.

Salah satu inti persoalan yang dibahas dalam musyawarah film tersebut adalah dominasi film Amerika yang di bawah AMPAI.

Pada bulan…… th. dibentuk Panitia Aksi Boikot Film AS, yang anggotanya terdiri dari organisasi-organisasi film seperti PPFI, Pifin, Persatuan Bioskop Seluruh Indonesia, Sarbufis, Lembaga film, organisasi-organisasi kebudayaan.

Setelah itu dilakukan pemboikotan film AS di seluruh Indonesia dan demonstrasi di depan gedung AMPAI.

Disamping pemboikotan film AS yang selama ini memonopoli  gedung bioskop, kalangan progresif juga mempersiapkan Festival Film Asia Afrika. Golongan Perfini, Usmar, menentang festival film Asia Afrika dan mereka aktif dalam Festival Film Asia yang disponsori Taiwan, kendati pemerintah Taiwan terang-terangan anti Republik Indonesia.

Pada bulan… th… dapat diselenggarakan Festival Film Asia Afrika I di Jakarta. Aku duduk sebagai salah seorang ketua panitia sedangkan ketua umumnya adalah Ny. Utami Suryadarma.

Selain menjadi salah seorang Ketua Panitia, aku juga menjadi salah seorang anggota juri film yang dipertandingan ketika itu.

Golongan Perfini Usmar memboikot festival film tersebut dan tetap aktif mendukung festival film Taiwan.

Walaupun tujuan Aksi Boikot Film Amerika dan Festival Film Asia Afrika, adalah untuk kepentingan pertumbuhan dan perkembangan film nasional, termasuk film-film Perfini, namun golongan Perfini menyebutnya dan menuduhnya sebagai upaya untuk kepentingan PKI.

Di samping kegiatan-kegiatan tersebut, di Medan aku dan beberapa wartawan Medan, termasuk Murad Abdullah, Edy Elison Kr dll. mendirikan sebuah Lembaga Pendidikan Film dan mulai mengadakan kegiatan pendidikan ke jurusan penulisan skenario film. Anggota yang tergabung lebih kurang 50 orang dan kuliah serta sekertariatnya bertempat di Gedung Rencong Film, di Jalan Asia Medan. Diantara yang aktif mengurus sekertariatnya adalah sdr. Rusly Tahir, seorang wartawan bersama Murad Abdullah.

Di samping kegiatan Pendidikan di Medan, juga di Jakarta kami mengenakan semacam taman latihan untuk bidang film, diselenggarakan oleh Lembaga Film Indonesia.

Di samping kegiatan menyelenggarakan Aksi Boikot Film, Festival film Asia Afrika, aku juga aktif membantu panitia Konferensi Wartawan Asia Afrika dengan membikin film dokumenter Konferensi Anti Pangkalan Militer Asing, setelah peristiwa G. 30 S.

Aku juga aktif dalam delegasi Indonesia ke Konverensi Perdamaian di Tokyo, bersama Ibu Utamai Suryadarma. Aku membikin film dokumenter. Aku bawa kamera 16 mm dan dengan bantuan seorang teman di Jepang untuk memegang lighting, aku shoot sen…

Selama di Nusakambangan, oleh seorang Perwira pembina Mental Nasrani aku diminta mengadakan pertunjukan drama dalam rangka memperingati Hari Natal. Aku menulis sebuah naskah berjudul ‘Kasih dan Pengorbanan’. Kami berlatih selama sebulan,terdiri dari teman-teman Tapol dari berbagai daerah yang ada di Nusakambangan diantaranya sdr. Marmo SH, asal Yogya.

Ketika dipertunukkan selama beberapa malam, seorang Pendeta dari Purwokerto yang menyaksikan pertunjukan itu, mengajak banyak orang dari Purwokerto untuk pergi melihat pertunjukan itu ke Nusakambangan. Bahkan dia meminta izin untuk bisa membawa rombongan kami mengadakan pementasan di Purwokerto, tetapi dia tak memperoleh izin itu.

Ketika sering ke Medan memberi pelajaran menulis skenario di Lembaga pendidikan Film Medan, aku menulis sebuah drama puisi berjudul Buih dan Kasih.

Naskah itu pernah dipentaskan di Pantai Cermin, atas sponsor Bupati Kab. Deli Serdang, Abdulah Eteng. Pelakunya adalah Nizmah, hadisyam Tahax dll. Pertunjukan itu diadakan di sebuah panggung atas air. Penonton melihat dari pantai. Pertunjukan itu selesai, ketika air pasang.

Ketika itu yang menghadiri pertunjukan lebih dari 10.000 orang, datang dari berbagai kota dengan mobil. Ketika akan pulang terjadi kericuhan. Ketika datang mobil itu diparkir dijalan ke pantai yang jauhnya lebih kurang 5 km dari jalan raya. Ketika hendak pulang mobil yang paling ujung (yang datang awal) tak bisa keluar, sebelum mobil mobil dibelakangnya pergi, sedangkan jalan itu jalan kampung hanya bisa dilalui satu mobil, tak bisa berpapasan.

Sampai tengah malam barulah urusan pulang itu usai, sementara orang kelaparan dan protes kepada pak Bupati.

Langkat, a.l. Tengku Latifah, Tengku Kamali h. Mengapa hal itu dapat terjadi, karena pemimpin orkes kami itu, Asbah yang bermain Hawaian bertitel Orang Kaya, termasuk kalangan bangsawan berdarah biru. Kami sering bermain di istana Sultan di Binjai.

Seorang teman akrabku, Abdulah Kamil, yang dekat dengan teman-temanku dari Pemuda Gerindo, sering mengkritikku karena ikut dalam band istana itu. Abdulah Kamil kemudian pindah ke Malaya dan kemudian sempat menjadi Duta Besar RI di PBB.

Di samping ikut band Hawaian itu, aku juga ikut orkes keroncong yang dipimpin oleh temanku bernama Pon. Pernah beberapa kali ikut kongkurs di Pasar Malam.

Ada hal yang menghambat aku dalam bermain musik. Kakekku yang fanatik beragama, melarang aku bermain musik katanya alat musik itu maksiat yang akan membawa orang ke neraka.

***

Membantu AURI

Setelah Konfrensi Asia Afrika di Bandung pada tanggal 18 April 195(?), situasi politik dalam negri terasa tegang. Pada tanggal 20 Desember th. 1956 terjadi peristiwa Dewan Banteng lalu menyusul aksi-aksi pembentuk apa yang disebut Dewan-Dewan dan peristiwa Boike Ninggolan di Sumut.

Pada tanggal 30 November1957 terjadi penggeranatan terhadap Bung Karno di Cikini lalu pada tahun berikutnya, 15 Februaru 1958, terjadi pemberontakan PRRI-Permesta yang didalangi oleh Amerika Serikat.

Hal itu terbukti dengan tertangkapnya Allan Pope, seorang penerbang AS.

Karena Republik ini dalam keadaan bahasa, melalui Kapten AURI Rasidi, aku menjadi sukarelawan AURI. Ketika itu Panglimanya Suryadarma dan Kepala Stafnya Siswadi.

Aku dan Kapten Rasidi serta seorang Bintara AURI, pemuda asal Nias, diterbangkan ke Pulau Nias.

Rencana di Nias ialah membangun sebuah lapangan terbang, karena sebelum itu sering pesawat-pesawat terbang tak bertanda terbang dari arah Pulau Cocos melewati Tapanuli. Dan besar kemungkinan mereka mendrop senjata untuk para pemberontak, Nainggolan CS.

Sebelum berangkat ke Nias, aku mampir ke Medan menghubungi SM Tarigan, ketua BTI Sumatra utara untuk membicarakan kemungkinan pengerahan anggota. BTI di Nias bekerja bakti membangun lapangan terbang itu.

Maksud itu memperoleh dukungan dan aku serta Kapten Rosidi segera berangkat ke Gunung Sitoli dengan menumpangi sebuah pesawat Catalina.

Setelah terbang lebih satu jam kami mendarat di perariran Gunung Sitoli.

Kami tinggal di sebuah rumah yang baru didirikan untuk rumah Bupati Nias. Ketika itu Bupatinya ayah dari seorang teman sastrawan di Medan Bokor Hutasuhut dan Kepala Polisinya orang dari Tanah Karo, Sembiring.

Kami segera mulai membangun lapangan terbang itu dengan bantuan rakyat Nias yang bekerja secara sukarela. Sebagian besar adalah anggota Barisan Tani.

Lapangan terbang itu diberi nama Hunanbou yang letaknya arah ke barat Gunung Sitoli.

Ketika itu aku menggubah sebuah lagu mars berjudul Hunanbou, yang liriknya menganjurkan kerjabakti demi kepentingan dan kemajuan pulau Nias.

Banyak pengalaman-pengalaman khusus selama di Nias antara lain mengenai apa yang disebut black magic.

Pada suatu hari aku oleh Dr. Muller, yang Kepala RS di Gunung Sitoli diberi kesempatan untuk melihat laboratoriumnya. Di sana ditunjukan sebuah botol, seperti toples, yang berisi kaki burung elang dengan kuku-kukunya yang tajam, dililit oleh rambut.

Menurut kata dokter Jerman itu, benda itu ditemukan dirahim seorang wanita yang perutnya membunting selama beberapa bulan dan dikira hamil. Setelah dioperasi, ditemukanlah barang ajaib itu.

Di depan asmara kami ada seorang guru wanita yang parasnya lumayan. Kami berkenalan baik. Dia mengajar di SGKP.

Pada suatu hari aku kaget, ketika mendengar suara wanita menjerit-jerit dan tertawa terkekeh-kekeh. Ketika aku keluar rumah, ternyata sudah banyak orang datang ke rumah guru itu karena wanita kenalanku itu sakit. Dia menjerit-jerit dan bertelanjang bulat di kamarnya, memanjat-manjat dan kadangkala tertawa terkekeh-kekeh seperti orang gila.

Aku segera menghubungi Dr. Muller untuk meminta bantuannya. Namun dokter itu menasehati agar aku lebih baik pergi ke sebuah desa menjemput seorang dukun. Dia meminjamkan landrovernya dan malam itu juga dukun itu kujemput ke sebuah kampung yang cukup jauh.

Ternyata, setelah dukun itu datang, wanita itu dapat disembuhkan dengan secara baik.

Menurut keterangan, dia ‘dibikin’ orang yang sakit hati karena lamarannya ditolak oleh orangtua si guru itu.

Pengalaman lain lagi, mengenai penyakit malaria tropika yang mengganas di Pulau itu. Ada seorang penduduk desa, agak jauh dari Gunung Sitoli, yang anak perempuannya berumur lebih kurang 5 tahun sakit dan tak sembuh-sembuh. Anak itu sudah sangat kurus.

Karena ada tanda-tanda dia kena serangan malaria, kuberikan satu dosis obat Malaria dari Bayer, Resochin, yang memang kami bawa sebagai persediaan menangkal malaria selama di Nias.

Setelah beberapa hari dia minum obat itu secara teratur anak itu sembuh dan oleh ayahnya anak itu ‘diberikan’ kepadaku sebagai anak. Dan agar anakku itu tidak kubawa keluar Nias, orangtuanya menebusnya dengan sebuah cincin emas dengan permata sebuah geliga kelas yang putih dan selalu berobah-obah.

Ketika aku pulang, cincin itu kubawa dan anak angkatku itu tetap tinggal di Nias.

Setelah beberapa bulan di Nias, lapangan terbang itu dapat digunakan untuk pesawat-pesawat ringan. Aku dan Kapten Rasidi kembali ke Jakarta.

Kami diangkut oleh sebuah spedboot Alri ke Teluk Bahur Padang dan dari padang dengan Gia ke Jakarta.

Karya-Karya Film Periode 1955-1981

1. Kabut Desember     pelaku: Dahlia, Sakti Alamsyah     skenario/sutradara

2. Melati Senja            pelaku: Lies Noor, Bing Slamet       skenario/sutradara

3. Daerah Hilang       pelaku: Sukarno M. Noor                  skenario/sutradara

4. Corak Dunia            pelaku: Mieke Wijaya,

                                         Sukarno M. Noor                                 skenario/sutradara

                                                                                                         (diekspor ke RRC, Korea, Vietnam,
Jerman, Uni Sovyet)

5. Baja Membara         pelaku: Farida Ariani, Arifin,

                                          Ali Yugo, Sofia Waldy (ekspor ke
Uni Sovyet, RRC, Korea, Jerman    skenario/sutradara

6. Memburu Menantu  pelaku: Ludruk Marhaen                  skenario/sutradara

7. Kamar 13                     pelaku:                                                   skenario

8. Notaris Sulami          pelaku: Fifi Young, Rima Melati    skenario/sutradara

9. Iseng                            pelaku:                                                   skenario

10. Membangun Hari Esok pelaku: Diky Zulkarnaen, Nani Wijaya   skenario/sutradara

11. Piso Surit                            pelaku: Mieke Wijaya, Ahmady Hamid   skenario/sutradara

                                                     (Ekspor ke Uni Sovyet, Inggris)

12. Violeta                                 pelaku: Bambang Hermanti,

                                                     Rima Melati, Fifi Young                               skenario/sutradara

13. Sekejap Mata                     pelaku: Mieke Wijaya, Zainal Abidin      skenario/sutradara

14. Busana Dalam Mimpi     pelaku:                                                              skenario

15. Tiga Dara Mencari Cinta        pelaku:                                                     skenario

16. Tomboy                                        pelaku:                                                     skenario

17. Intan Mendulang Cinta          pelaku:                                                      skenario

18. Gemerlap dalam Badai            pelaku:                                                     skenario

19. Karma Pala                                 pelaku:                                                     skenario

20. Membelah Kabut Tengger    (video — beredar di Malaysia              skenario

                                                              pernah disiarkan RCTI

Karya Film Dokumenter 16 mm. periode 1955/1981

1. Upacara Adat Aron Tanah Karo

2. Seni Ratuh Duk Aceh

3. Kesenian Gayo Alas

4. Kesenian Sedati Aceh

5. Danau Toba dan Penduduknya

6. Danau Air Tawar, Takengon Aceh

7. Awan Indonesia           (ekspor ke Jepang NHK.)

8. Fkoating Bank Kalimantan Barat (BNI)

9. Patung-patung kayu Amrus Natalsya                  (Ekspor ke Uni Sovyet, Ceko, Jepang)

10. Bank Keliling BNI Jawa Tengah-Jawa Timur

11.Pameran Uang Republik Indonesia (BI)

12. Konfrensi Kaliurang BNI

13. Tambang Batu Bara Ombilin

14. Pahlawan Nasional Ngurah Rai (pelebon di Bali)       (diekspor ke AS/Nitour)

15. Pameran Industri Jakarta

16. International Journalist Conference Jakarta

17. Afro Asia Journalist Conference, Bali

18. Peace Conference, Tokyo, Jepang

19. Ganefo (Games of the New Emerging Forces, Jakarta)

20. Afro Asian Film Festival Jakarta

21. Pabrik Rokok BAT Surabaya

22. Pabrik Tekstil Pasuruan

23. Procer & Gamble Surabaya

24. Belum Terlambat, Dep. PDK                                                     )

25. Tantangan dan Harapan, Dep. PDK                                      ) Semi Dokumenter

26. Kabutpun Berlalu, Dep. PDK                                                     )

27. Rentang yang Menantang Dep. Pertanian                            )

28. Perlindungan Rentang Direktorat Pengairan

29. Terang Satu, Terang Semua  Dirjen Koperasi (Listrik Pedesaan)                             Semi Dokumenter

30. Desa Terang, Hati Benderang              Dirjen Koperasi/Listrik Masuk Desa        Semi Dokumenter

31. Kawasan Industri Pulo Gadung

32. Kawasan Pabrik Baja Cilegon PT. Krakatau Steel

33. Dok Kapal Keruk

dll.

Karya-Karya Drama Teater

1. Dokter Darma                                  ketika dipentaskan di Belawan, zaman pendudukan Jepang, penulisnya ditangkap Kempeitai

2. Darah Rakyat                                   drama satu babak

3.DB (Darah Buruh)                            drama 2 babak (dilarang pementasannya)

4. Sanyaru                                                drama satu babak.

5. Lorong Belakang                            diterbitkan sebagai buku di Medan

6. Antara Kasih                                    drama 3 babak

7. Angin Berkisar                                 drama 3 babak

8. Caping                                               Komedi Tragik

9. Buih dan Kasih                                drama Puisi, dipentaskan di teater Pantai, pantai Cermin

10. Kasih dan Pengorbanan             drama 3 babak

11. Aster Merah                                     drama radio, beberapa kali disiarkan oleh RRI

12. Musim Rindu                                 drama radio

13. Puteri Bulan                                    drama tari dan nyanyian operette

 *Dalam dokumen asli yang disimpan oleh keluarga Bachtiar, judul catatan ini dicoret. Redaksi LKIP) sengaja tetap mempertahankan judul tersebut.

Pengantar oleh Windu Jusuf (Indoprogres)

Kita mengenal sejarah sosial politik Indonesia pasca kemerdekaan sampai dengan tahun 1965-an sebagai sejarah pergulatan dualisme politik. Bayang-bayang dualisme ideologi politik pada saat itu juga masih melekat pada sejarah kebudayaan. Di antara arsip filem yang tersedia di Sinematek Indonesia, ada satu latar entitas sosial politik yang tidak tersimpan di lembaga arsip filem tersebut. Karya tersebut adalah karya-karya para sutradara yang berlatar organisasi Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Salah satunya ialah Bachtiar Siagian, seorang sutradara yang memiliki penanda politik yang cukup penting yang berasal dari Lekra. Dalam literatur kekiniaan berbahasa Indonesia, sutradara Bachtiar Siagian sempat diulas oleh Krishna Sen dalam “Kuasa dalam Sinema: Negara, Masyarakat dan Sinema Orde Baru” (Penerbit Ombak, 2009). Namun, ulasan Krishna Sen terhadap karya Bachtiar Siagian hanya sebatas ulasan berdasarkan skenario. Sampai hari ini, generasi kita pun belum bisa menonton filem Bachtiar Siagian. Tentunya, membaca sejarah filem Indonesia pasca kemerdekaan akan terasa pincang tanpa membaca karya Bachtiar Siagian.[iii]

Bachtiar Siagian
Bachtiar Siagian

Namun, sejarah Sinema Indonesia yang ada selama ini memang tidak jauh dari “bayang-bayang sejarah politik” yang berlangsung. Bisa jadi, nasib yang sama juga diperlihatkan oleh pembacaan sejarah seni di Indonesia yang lain pada situasi pasca kemerdekaan. Mengusulkan karya Bachtiar Siagian sebagai bagian dari pembacaan sejarah filem Indonesia, sebenarnya, belum tentu juga menjamin kesejajaran sejarah dua ideologi yang bertarung dalam sejarah politik Indonesia pasca kemerdekaan kala itu. Menurut keterangan Misbach Yusa Biran, filem-filem Bachtiar Siagian sendiri sebenarnya tidak menggambarkan ideologi Lekra (Realisme Sosialis) secara konsisten.[iv] Bidang seni lainnya, seperti seni rupa, bisa jadi juga tidak luput dari anggapan-anggapan ideologi politik yang melatari produk estetiknya. Seperti yang pernah diungkapkan Misbach dalam membaca filem Bachtiar Siagian, bahwa perihal estetika dan perihal latar ideologi politik bukanlah sesuatu yang ‘konstitutif’. Begitu pentingnya Misbach Yusa Biran, yang bukan saja sebagai saksi hidup dalam melihat perkembangan sejarah filem Indonesia pasca kemerdekaan, tetapi endapan-endapan pengalaman filemis beliau dalam membaca filem Indonesia di masa lampau juga menjadi khasanah sejarah filem yang tidak lagi berada di bawah bayang-bayang sejarah sosial politik Indonesia pasca kemerdekaan.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...