20 January 2020

Opini

Soal Natuna, tak perlu diperdebatkan di Indonesia

Oleh: Sahabat Rahmat Nuriyansah*

Jangan sampai Indonesia mati konyol pada persoalan Penguasaan, Pengembangan & Eksplorasi Tekhnologi. Tentu hanya akan membuang tenaga dan pikiran saja jika memang keberadaan China di Natuna di Perdebatkan. Bukankah strategy & model seperti itu sudah menjadi hal yang lumrah dan tidak asing lagi dalam merampas kekayaan Indonesia baik secara SDM & SDA.

Lenon dan Nietzsche

Oleh Saleh Abdullah

 

Ya, Lenon itu dari panggilan akrab almarhum Agus Edy Santoso, Agus Lenon. Dulu saya biasa menyapanya Lenon.

Lenon kadang suka jail. Berikut ini salah satu cerita kejailan dia yang "cerdas."

Pada sebuah diskusi filsafat di sebuah tempat. Seorang teman filsuf dari STF Driyakara berpendapat bahwa Nietzsche bukan sungguh-sungguh ateis, setidaknya secara filosofis.

Tragedi Jiwasraya: Risiko Tidak Terukur, Klaim Tidak Terbayar

Oleh:  Oleh Dody A.S. Dalimunthe*

 

 KASUS Jiwasraya, Bumiputera, dan yang terkini ASABRI cukup berdampak bagi industri asuransi nasional. Dampak yang terasa adalah sedikit menurunnya kepercayaan masyarakat kepada industri asuransi.

Contohnya adalah pembayaran klaim yang tertunda atas polis-polis Jiwasraya dan Bumiputera yang menimbulkan stigma agak negatif terhadap asuransi. Hal itu diperparah pemberitaan-pemberitaan yang kontraproduktif terkait dengan isu-isu yang nonteknis.

Kesaksian Kecil Dari Sekian Banyak Tindakan Besar Agus Edi Santoso (AES)

Oleh Moh Jumhur Hidayat

 

Kasus 5 Agustus 1989 adalah ketika 6 orang Mahasiswa ITB ditahan dan diadili oleh Rezim Orde Baru karena menentang dan menolak kehadiran Mendagri Rudini ke kampus ITB pada 5 Agustus 1989.

Saat di pengadilan, tentunya setiap terdakwa membuat pembelaan atau sering disebut Pledoi. Sudah pasti Pledoi ini sangat penting karena bisa menjadi referensi tentang kejadian politik pada kurun waktu itu.

Mengenang Perginya Aktivis Kiri-Islam Indonesia yang Humanis, Agus Lenon

Oleh:  Bob Randilawe

 

In Memoriam Agus Edy Santoso# Agus, Wong Cilik, dan Muhammadiyah

Oleh:  Syaefudin Simon

 

Tiga orang berambut cepak dan berbadan sekel terus mengintai sebuah rumah di Pancoran Barat. Ketika Agus hendak “pulang” ke rumah Ahmadi Thaha, usai makan, tiga orang berambut cepak itu mencegat Agus.

“Apakah kau mengenal saudara Agus Edy Santoso yang bersembunyi di rumah itu?,” kata salah seorang pria cepak itu menunjuk rumah Ahmadi Thaha.

Agus Edi Santoso dan Kisah Teman Di Atas Politik

Oleh: Denny JA

 

Grup kecil itu diberi nama KLUB AKTIVIS BAKAR LEMAK. Setiap minggu pagi, jam 7.00- 10.00, kami berkumpul di pantai Ancol.  Didahului jalan pagi. Setelah itu senam dengan musiknya. Ditutup dengan makan pagi, kadang  sambil guyon, kadang sambil debat politik yang keras.

Pesertanya para aktivis usia 50 tahun ke atas.

Awalnya  percakapan sambil lalu. Ujar Agus, ia punya masalah dengan jantung. Tapi kata dokter, kesehatannya tak memenuhi syarat untuk pasang ring. Belum bisa juga jantungnya dioperasi bypass.

HMI Connection Vs Pro-Demokrasi Connection

Oleh:Ashad K. Djaya

 

Perang Besar Bisa Terjadi Karena Miskalkulasi, Pemimpin yang Eratik dan Nasionalisme yang Ekstrim

Oleh: Susilo Bambang Yudhoyono

 

 

BAGI yang berharap tahun 2020 ini dunia kita menjadi lebih aman dan damai, harus bersiap untuk kecewa. Bahkan frustrasi. Tidak ada tanda-tanda untuk itu. Yang terjadi, di awal tahun baru ini kawasan Timur Tengah kembali membara.

Perang Dunia 3 dan Nasib Indonesia: Tiga Catatan Kritis Atas Pikiran SBY

Oleh: Dr. Syahganda Nainggolan


SBY telah menulis pikirannya tentang situasi global saat ini, dan viral, dengan judul "Perang Besar Bisa Terjadi Karena Miskalkulasi, Pemimpin Yang Eratik dan Nasionalisme Yang Ekstrim". Tulisan SBY ini berlatarbelakang pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani atas order Presiden Amerika Donald Trump. Soleimani adalah jenderal penting di Iran karena mengurusi pasukan elit Iran, pasukan Quds. Iran marah dan akan membalas dendam.

Pages