23 August 2019

Opini

Ironis! Sumber Daya Alam Melimpah, Impor Ugal-ugalan

Oleh: Dewi Tisnawati,  S. Sos. I 
Pemerhati Sosial

Kekalahan Indonesia oleh Brasil di World Trade Organization (WTO) menambah daftar panjang serbuan barang impor yang masuk ke dalam negeri. Terlepas dampak impor daging bagi peternak ayam, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyatakan keputusan ini harus dijalankan apapun konsekuensinya karena dapat memancing respons negara tetangga, Rabu (7/8/2019).

Sudahkah Indonesia Bebas Penjajah?

Oleh: Ong Hwei Fang
Activist Literacy For Change

Selebrasi yang jatuh setiap 17 Agustus, selalu menjadi momen seluruh bangsa Indonesia untuk  merayakan hari kemerdekaannya. Selama 74 tahun, berbagai karnaval, parade, lomba dan aneka ragam aktivitas lainnya dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat. Berbagai Umbul-umbul dan bendera merah putih dikibarkan sebagai simbol kemerdekaan. Namun, menjadi pertanyaan mendasar, benarkah Indonesia sudah merdeka? Benarkah penjajahan di negeri ini sudah berakhir?

Gandhi, Spirit Swadesi Dan Perang Dagang Indonesia-Tiongkok

Gandhi mengajarkan gerakan swadesi, maksudnya “makan dan pakai apa yang dihasilkan oleh negeri sendiri”. Dalam bahasa sederhana, konsep swadesi menurut Gandhi mengarah pada Swarajya (kemerdekaan). Dalam arti pemerintah oleh negeri sendiri (self-rule), yang bertumpu pada kekuatan sendiri (self-reliance).

Oleh Haris Rusly Moti

 

Garam dan Mahatma Gandhi tak bisa dipisahkan. Gandhi dan para pengikutnya pernah melakukan civil disobedience. Mereka memprotes monopoli garam oleh pemerintah kolonial Inggris.

Donald Trump dan Reputasi Amerika

Oleh: Shamsi Ali* 

Ternyata kebesaran dan harga diri sebuah negara tidak saja ditentukan oleh kebesaran ukurannya atau kekayaan dan keindahan alamnya. Tidak juga hanya dengan jumlah penduduk dan kemajuan perekonomiannya. Atau ketinggian inovasi sains dan teknologinya.

Kebesaran dan kehormatan sebuah negara sedikit banyaknya juga ditentukan oleh siapa yang menjadi pemimpinnya. Pemimpin negara seolah menjadi representasi kecil atau cermin mini dari sebuah negara itu sendiri.

Ibu Kota Pindah ke Kalimantan, Kenapa Gak ke Beijing?

Oleh: Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Kok judulnya begitu? Ya, begitulah. Judul ini menggambarkan apatisme, bahkan mewakili kekesalan begitu banyak warga negara terhadap program pindah ibu kota. Pertama, ekonomi lagi morat marit kok mau pindah ibu kota. 

Prostitusi Online: Dampak Kemajuan di Sisi Lain ?

Oleh: Mila Ummu Tsabita
Pegiat Sekolah Bunda Sholiha

Tak kalah dengan kota lain di Indonesia, Banjarbaru (Ka-Sel) juga sempat dihebohkan dengan terungkapnya prostitusi online (daring) yang dilakukan oleh dua remaja di bawah umur. Diduga, masih ada puluhan PSK berusia belia yang menjalankan bisnis serupa di Kota Idaman.  Cara bertransaksi yang dilakukan para PSK online sendiri biasanya menggunakan aplikasi MiChat.

Narasi Radikalisme yang Absurd dan Tendensius

Oleh: Ainul Mizan*

Di dalam sebuah forum diskusi, Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan, Prof Mahfudz MD menyatakan bahwa ada Ulama Arab yang lari ke Indonesia membawa uang jutaan dollar untuk menyebarkan paham radikal. Menurutnya, Ulama Arab yang lari tersebut adalah yang lolos dari penangkapan otoritas Arab Saudi (www.gatra.com, 16 Agustus 2019). Tentunya menurutnya pula, ini adalah trend baru penyebaran paham Radikal.

Ironi Rasisme, Renungan 74 thn Kemerdekaan Indonesia

Oleh: Syaiful Bahri Ruray*

Situasi terakhir di Asrama mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang yang berbuntut panjang hingga demo besar2an di Manokwari, Sorong, Jayapura dan Makassar, dan Fakfak, lalu Timika beberapa hari ini, seakan memaksakan saya untuk membuka kembali buku lama tentang "Risalah Sidang BPUPKI" terbitan Sekneg RI, 1995.

Akankah China Menguasai Nusantara?

Oleh: Ratna Kurniawati

Indonesia telah sepakat untuk ‎bekerjasama dengan China, salah satunya adalah pengembangan kendaraan listrik. Hal ini ditandai dengan ditandatanganinya dua nota kesepahaman dan lima kontrak kerja sama antara perusahaan-perusahaan dari kedua negara. China tertarik menanam modal membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) memanfaatkan potensi sungai di Kalimantan Utara (Kaltara). Nilai investasinya diperkirakan US$ 17 miliar atau sekitar Rp 229 triliun (US$ 1 = Rp 13.500). 

"Kyai Dan Pelacur"

KONFRONTASI -  KH. Ali Yahya Lasem terkenal tampan, berbadan tegap dan atletis. Bila sarung, sorban, dan kopiahnya dibuka beliau mirip bule Eropa, Amerika atau Australia. Tak heran kalau banyak wanita terpesona.

Suatu hari beliau ada undangan mengisi pengajian di Jepara, saat di perjalanan mobil yang beliau tumpangi berhenti di sebuah lampu merah. Saat itu beliau duduk di samping sopir dengan melepas sorban dan kopiah yang dipakainya. Tiba-tiba seorang wanita muda, menor, dan seksi menghampirinya.

Pages