25 November 2017

Khazanah

Ketika Umar bin Khatab Membela 'Wong Cilik' yang Tergusur

KONFRONTASI-Di kalangan umat Islam sebenarnya sudah ada teladan dari Khalifah Umar bin Khatab di dalam menangani penguasa yang berbuat sembarangan ketika menggusur rumah ‘wong cilik’ atau warga yang miskin. Kisah ini sudah sangat terkenal dan secara luas diketahui umat Islam.

Dalam banyak forum pengajian cerita ini sering sekali diungkapkan agar menjadi pelajaran bagi siapa pun yang nantinya menjabat sebagai pemimpin, baik dalam skala kecil dan luas.

Salah satu buku KH Abdurrahman Arroisi (buku 30 Kisah Teladan, red) menuliskan tentang keteladanan Umar Bin Khatab ketika didatangi seorang Yahudi tua yang mengeluh kepadanya mengenai masalah penggusuran rumahnya yang terancam digusur penguasa demi kepeningan umum, ketertiban, dan keindahan. 

Dia pun keras memprotes kesewang-wenangan Gubernur Mesir, Amru bin Ash, yang akan membangun rumah megah di atas tanah miliknya.

Yahudi tua yang miskin itu mengaku lahan tanah miliknya memang sebagian masih berawa-rawa. Dan dia tinggal di situ dengan menempati sebuah gubuk reot yang hampir roboh.

Dia menceritakan kepada Khalifah Umar, bila Gubernur Mesir Amr bin Ash meminta kepada agar meninggalkan tempat yang kumuh dan rumah yang reyot karena di situ akan dibangun sebuah rumah gubernur dan masjid yang megah.

Demi melaksanakan cita-citanya, maka Amru bin Ash kemudian memanggil Yahudi tua ini menghadapnya untuk merundingkan besaran uang dan kompensasi yang akan diterimanya.

“Hei Yahudi, berapa harga jual tanah milikmu sekalian gubuknya? Aku hendak membangun masjid di atasnya.”

Yahudi itu menggelengkan kepalanya, “Tidak akan saya jual, Tuan.”

“Kubayar tiga kali lipat dari harga biasa?” tanya Gubernur menawarkan keuntungan yang besar.

“Tetap tidak akan saya jual” jawab si Yahudi.

“Akan kubayar lima kali lipat dibanding harga yang umum!” desak Gubernur.

Yahudi itu mempertegas jawabannya, “Tidak!”

Sampai akhir pertemuan, kepada Umar dia mengatakan tetap tak mau memberikan tanah dan rumahnya untuk dijual kepada sang Gubernur Mesir tersebut. Warga pemeluk agama Yahudi ini tetap berkeras tak mau menjual karena tanahnya meski dalam kondisi berawa-rawa dan gubuknya yang reot tersebut adalah milik satu-satunya.

Dan sepeninggal pertemuan dengan kakek tua ini, Amr bin Ash memutuskan melalui surat untuk membongkar gubuk reyotnya dan mendirikan masjid besar di atas tanahnya dengan alasan yang sama, yakni demi kepentingan bersama dan memperindah pemandangan mata.

Kakek Yahudi sang pemilik tanah dan gubuk reyot itu kemudian mengatakan kepada Amir bin Ash bila tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi tindakan penguasa. Ia cuma mampu menangis dalam hati. Meski begitu ia tidak putus asa dengan tetap terus berusaha memperjuangkan haknya.

Maka dia pun bertekad hendak mengadukan perbuatan gubernur tersebut kepada atasannya di Madinah, yaitu Khalifah Umar bin Khattab. Untuk itu dia pun berangkat mengarungi panjangnya jalur jalan di gurun pasir yang panas menyengat, menuju ke Madinah demi menuntut haknya kepada atasan Amru bin Ash: Khalifah Umar bin Khatab.

Sesampai di Madinah,  ia mendapati kenyataan yang dil luar dugaanya. Sungguh ia tak menyangka, Khalifah yang namanya sangat tersohor itu tidak mempunyai istana yang mewah.  Umar pun begitu gampang ditemui karena berbaur dengan warga layaknya orang biasa. Kakek Yahudi ini  bahkan kemudian diterima Khalifah di halaman masjid Nabawi, di bawah sebatang pohon kurma yang rindang.

“Ada keperluan apa Tuan datang jauh-jauh kemari dari Mesir?” tanya Khalifah Umar.

Meski Yahudi tua itu gemetaran berdiri di depan Khalifah, tetapi kepala negara yang bertubuh tegap itu menatapnya dengan pandangan sejuk sehingga dengan lancar ia dapat menyampaikan keperluannya dari semenjak kerja kerasnya seumur hidup untuk dapat membeli tanah dan gubuk kecil, sampai perampasan hak miliknya oleh gubernur Amr bin Ash dan dibangunnya masjid megah diatas tanah miliknya.

Mendengar ceritanya,  mendadak roman muka Umar bin Khattab berbuah merah padam. Dengan murka ia berkata,

“Perbuatan Amr bin Ash sudah keterlaluan!”

Dan sesudah agak meredakan emosinya yang meluap, Umar lantas menyuruh Yahudi tersebut mengambil sebatang tulang dari tempat sampah yang eronggok di dekatnya. Yahudi itu pun ragu melakukan perintah tersebut. Dia bertanya-tanya: Apakah ia salah dengar?

Tetapi setelah tulang diambil dan kemudian diserahkan kepada Umar, maka oleh sang Khalifah, tulang itu digoreti huruf alif lurus dari atas ke bawah, lalu dipalang di tengah-tengahnya menggunakan ujung pedang. Kemudian tulang itu diserahkan kepada si kakek seraya berpesan, “Tuan. Bawalah tulang ini baik-baik ke Mesir, dan berikanlah pada gubernurku Amr bin Ash.”

Yahudi itu semakin bertanya-tanya. Ia datang jauh-jauh dari Mesir dengan tujuan memohonkan keadilan kepada kepala negara, namun apa yang ia peroleh? Sebuah tulang berbau busuk yang cuma digoret-goret dengan ujung pedang. Apakah Khalifah Umar tidak waras?

“Maaf, Tuan Khalifah.” ucapnya tidak puas, “Saya datang kemari menuntut keadilan, namun bukan keadilan yang Tuan berikan. Melainkan sepotong tulang yang tak berharga. Bukankah ini penghinaan atas diri saya?”

Umar tidak marah. Ia meyakinkan dengan penegasannya, “Hai, kakek Yahudi. Pada tulang busuk itulah terletak keadilan yang Tuan inginkan.”

Maka, walaupun sambil mendongkol dan mengomel sepanjang jalan, kakek Yahudi itu lantas berangkat menuju tempat asalnya dengan berbekal sepotong tulang belikat unta berbau busuk. 


Setelah tiba kembali di Mesir, maka ia kemudian menemui Gubernur Amr bin Ash. Dia mengatakan telah bertemu dengan Khalifah Umar bin Kahatab dan mendapatkan titipan tulang onta untuk disampaikan kepadanya.

Anehnya, begitu tulang yang tak bernilai tersebut diterima oleh Gubernur Amr bin Ash, tak disangka mendadak tubuhnya gemetaran. Tubuhnya menggigil dan wajahnya menyiratkan ketakutan yang amat sangat.

Ganjilnya lagi, seketika itu pula ia memerintahkan segenap anak buahnya untuk merobohkan masjid yang baru siap, dan supaya dibangun kembali gubuk milik kakek Yahudi serta menyerahkan kembali hak atas tanah tersebut.

Ini Kunci Agar Hati Tenang

KONFRONTASI - Minimal  ada 10 kunci agar hati & jiwa kita selalu  tenang dan tentram yaitu :

1. TIDAK MEMBENCI
Jangan pernah membenci seseorang, walaupun dia telah berbuat kesalahan kepadamu.

2. TIDAK MERENGUT
Jangan berkeluh kesah & bersedih hati, seyogyanya perbanyaklah berdo'a kepada Allh SWT

3. HIDUP SEDERHANA
Hiduplah sederhana & sewajarnya walaupun punya  kedudukan tinggi & harta melimpah.

Tags: 

Kisah Nabi Zulkifli As

Kisah Nabi Zulkifli

 

 

Ini Cerita Kisah Mualaf Pertama Inggris yang Dilempar Kepala Babi

KONFRONTASI - Saat menyiarkan Islam di Tanah Ratu Victoria itu, Qilliam pernah dilempar kepala babi. Tapi dia tetap gigih. Seperti apa kisah mualaf pertama di Inggris ini?William Henry Quilliam, profesor hukum dari Inggris merupakan muslim pertama di negara itu. Quilliam yang membuka Institut Muslim Liverpool pada 1889 dikenal melawan arus masyarakat tempatnya karena berani masuk Islam.

Kisah Nabi Harun As

Kisah Nabi Harun As


 

Mengisahkan nabi Harun tidak lepas dari kisah nabi Musa, kerena ia adalah juru bicara nabi Musa ketika menghadap Fir”aun ataupun umat nabi Musa sendiri. Kisahnya ketika nabi Musa berhasil membawa umatnya keluar dari wilayah Mesir dan selamat dari kejaran Fir”aun yang ingin membunuh mereka.

Cerita Nabi Musa As

Cerita Nabi Musa As

 

 

Kisah Oktavia Navri Tilova Marbun Masuk Islam

KONFRONTASI -  Oktavia Navri Tilova Marbun Masuk Islam, Siswi Sekolah pelayaran jakarta menjadi Muallaf sejak tahun 2015. Namanya akhirnya berubah menjadi Siti Aisyah Marbun. https://www.youtube.com/watch?v=ll_B-p1leSc.(Jft/MEDIA MUALLAF)

Kisah Nabi Syu’aib ‘Alaihissalam

Oleh: Marwan Bin Musa

 

Nabi Syu’aib ‘alaihissalam tinggal di kota Madyan yang letaknya di Yordania sekarang. Ketika itu, masyarakatnya kafir kepada Allah dan melakukan berbagai kemaksiatan, seperti membajak dan merampas harta manusia yang melintasi mereka. Mereka juga menyembah pohon lebat yang disebut Aikah.

Kesabaran Nabi Ayub Diuji dengan Penyakit Sampai Ditinggal Oleh Istri

Kesabaran Nabi Ayub

 

Perkataan Populer Sayidina Ali bin Abi Thalib

 

"Kebenaran yang tak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir."

 

Pages