15 October 2018

Ekbis

Palu Bangkit, Sejumlah Pertokoan Sudah Mulai Buka

KONFRONTASI-Sejumlah pertokoan di Kota Palu seperti toko material bangunan dan bengkel roda dua sudah kembali buka untuk melayani penjualan barang dan jasa pascabencana yang melanda sejak sepekan lalu.

"Buka sejak hari sabtu, tadinya karena cuma mau masuk ambil barang, orang minta tolong beli ini itu, yasudah seterusnya sudah buka sampai hari ini," kata Riyanti pemilik toko bangunan di Jalan Tanjung Satu Kota Palu, Minggu.

Angka Pengangguran AS Turun, Apa Dampaknya Terhadap Indonesia?

KONFRONTASI-Angka pengangguran di Amerika Serikat (AS) turun menjadi 3,7% pada periode September 2018. Apa dampaknya untuk negara-negara berkembang seperti Indonesia?

Ekonom INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan dengan turunnya angka pengangguran maka bank sentral AS atau The Federal Reserve akan semakin solid untuk menaikkan bunga acuan.

Dengan kenaikan bunga acuan maka berdampak pada kenaikan yield treasury bond tenor 10 tahun yang mencapai 3,23% atau tertinggi dalam 7 tahun terakhir.

Defisit Perdagangan AS Makin Parah

KONFRONTASI-Defisit perdagangan Amerika Serikat (AS) pada Agustus 2018 melebar hingga capai angka terburuk selama enam bulan terakhir. Ekspor semakin turun karena berkurangnya pengiriman kedelai, sementara impor menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Hal itu menunjukkan bahwa perdagangan bisa membebani pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2018.

Haruskah Harga BBM Dinaikkan Demi Selamatkan Rupiah?

KONFRONTASI-Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bakal berlangsung lama. Prediksinya, pelemahan ini akan berlangsung hingga Juni 2019.

Pada pekan lalu, rupiah menembus nilai psikologis baru Rp 15.100/US$. Bahkan pada penutupan pasar kemarin (5/10/2018) nilai tukar rupiah sudah menembus Rp 15.175/US$.

Rupiah Tergerus, Sandi Minta Pemerintah Berhemat

KONFRONTASI-Calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Salahudin Uno mengatakan, pertemuan tahunan IMF-World Bank di Bali pada 8-14 Oktober tak perlu dibatalkan.

Pemerintah cukup melakukan penghematan menghadapi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Selain itu, demi membantu korban bencana di Sulawesi Tengah dan Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB).

Usir LSM Asing Ilegal Perusak Iklim Investasi

KONFRONTASI-Pemerintah diminta untuk mengusir sejumlah lembaga swadaya masyarakat atau LSM asing bidang lingkungan hidup yang beroperasi di Indonesia. LSM itu diduga menjadi perpanjangan tangan melakukan kampanye hitam yang merusak ekonomi dan iklim investasi Indonesia.

Pascareformasi, kehadiran LSM asing yang beroperasi di Indonesia malahan menjadi blunder bagi perekonomian nasional. Mereka bahkan enggan melaporkan kegiatan maupun sumber pendanaannya kepada pemerintah.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudistira menjelaskan, jejaring LSM dari luar negeri bebas masuk Indonesia tanpa ada pelaporan maupun registrasi kepada pemerintah Indonesia. Sementara di Malaysia, pemerintah setempat memberikan pengawasan ketat bagi LSM transnasional yang ingin beroperasi.

"Pada kenyataannya, NGO (non-governmental organizations/LSM), melanggar regulasi karena tidak terdaftar di pemerintah. Kebebasan sekarang ini menjadi kebablasan akibatnya blunder bagi perekonomian Indonesia," kata Bhima dalam diskusi Forum Jurnalis Sawit (FJS) di Jakarta, Jumat (5/10).

Bhima menyebutkan persoalan hambatan dagang dan kampanye hitam dapat dipetakan ke dalam beberapa isu misalkan di Amerika Serikat yang muncul isu dumping dan persaingan biofuel. Di Uni Eropa, sawit diadang persoalan lingkungan dan Hak Asasi Manusia (HAM). Lain halnya dengan India yang menghadapi masalah neraca dagang.

"Isu negatif sawit terus dipoles dengan berbagai cara. Di Uni Eropa, sawit diserang isu buruh anak dan lingkungan," kata Bhima.

Jika persoalan ini tidak segera ditangani, dampaknya sangat luas terhadap neraca perdagangan dan investasi luar negeri. Bhima mengatakan surplus perdagangan Indonesia terus menyusut semenjak beberapa tahun terakhir.

Indonesia beruntung memiliki sawit yang menjadi penyumbang utama ekspor nonmigas. Akan tetapi, perhatian pemerintah terhadap sawit belum serius sehingga daya saintg komoditas ini sulit berkembang.

"Tetapi jika pemerintah tidak menjaga komoditas (sawit) dari gangguan. Maka nasib sawit akan seperti komoditas rempah-rempah yang sekarang kita dengar cerita kejayaannya saja," kata Bhima.

Soal Pelemahan Rupiah, Ekonom: Fundamental Ekonomi dan Neraca Perdagangan Kita Memang Rapuh

KONFRONTASI-Ekonomi Indonesia menghadapi tantangan berat , di mana Rupiah menembus level Rp 15 ribu dan indeks bursa saham sulit bertahan di level 6.000. Menurut ekonom Yanuar Rizky, soal Rupiah itu ada dua faktor penyebab, yaitu teknikal pasar keuangan dan fundamental ekonomi.

Rupiah Tergerus, Cadangan Devisa BI Terkuras Hingga USD3,12 Miliar

KONFRONTASI- Cadangan devisa Indonesia mengalami penurunan hingga US$ 3,12 miliar di akhir September 2018.

Bank Indonesia (BI) merilis cadangan devisa Indonesia pada Agustus 2018 sebesar US$ 117,9 miliar, posisi ini terendah sejak Januari 2017. Dan turun menjadi US$ 114,8 miliar pada September 2018.

Seperti diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terdepresiasi 1,19% selama September 2018. Tergerusnya cadangan devisa dikarenakan kebutuhan akan dolar untuk intervensi masih tinggi.

Perang Dagang AS-China Kian Menjadi-jadi, Bagaimana Nasib Ekonomi RI?

KONFRONTASI-Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan perang dagang China-AS, yang menimbulkan ketidakstabilan perekonomian global, masih akan berlanjut.

"Ketidakstabilan global itu tidak bisa dihindari, akan jalan terus. Malahan kalau tadinya dibilang paling hanya sampai kuartal pertama tahun depan, sepertinya tidak," katanya saat ditemui di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat.

Terus Tergerus, Rupiah Sore Amblas ke Level Rp15.183/USD

KONFRONTASI-Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat sore ini melanjutkan pelemahan sebesar 33 poin menjadi Rp15.183 dibandingkan posisi sebelumnya Rp15.150 per dolar AS.

Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Jumat mengatakan dolar AS masih berada dalam area positif terhadap mayoritas mata uang dunia menjelang perilisan data gaji nonpertanian (non-farm payrolls) Amerika Serikat untuk periode September 2018.

Pages